Penyerbukan dan Pembentukan Buah Kelapa Sawit

Tanaman Kelapa Sawit

Kelapa sawit (E. guineensis Jacq) adalah salah satu tanaman palma yang menghasilkan minyak nabati tertinggi di dunia, dengan produksi 2.000-3.000 kg/ha. Kelapa sawit merupakan tumbuhan monokotil dengan tinggi pohon mencapai 24 m. Sistem perakaran serabut kelapa sawit yang distribusinya mengarah ke bawah dan ke samping di dalam tanah, memungkinkan untuk penyerapan nutrisi dan air yang lebih baik. Kelapa sawit mempunyai daun majemuk menyirip, berwarna hijau tua dan pelepah daun berwarna hijau muda. Pelepah daun dengan 150-250 pasang daun, dengan panjang daun berkisar 80-120 cm dan lebar 3-5 cm (Kee et al. 2004).

Bunga jantan kelapa sawit terdapat pada bagian tandan yang sebut spikelet. Pada tanaman kelapa sawit, spikelet bunga jantan berjumlah puluhan hingga ratusan spikelet. Pada tanaman dewasa, jumlahnya berkisar 100-300 spikelet. Setiap spikelet terdapat 700-1.200 bunga yang dapat menghasilkan 80 gram serbuksari selama masa anthesis. Tandan bunga betina kelapa sawit ukurannya lebih besar dan mempunyai lebih dari 2.000 bunga per tandan. Waktu reseptif bunga betina kelapa sawit adalah 36-48 jam. Bunga jantan dan betina kelapa sawit (Gambar 1) berada dalam satu pohon (monoecious) tetapi berada pada tandan yang berbeda. Perbedaan waktu anthesis antara bunga jantan dan betina, menyebabkan penyerbukan sendiri jarang terjadi, sehingga diperlukanya agens untuk penyerbukan. Penyerbukan pada umumnya dilakukan oleh serangga, yaitu kumbang E. kamerunicus.


Buah kelapa sawit mempunyai warna yang bervariasi dari hitam, ungu, oranye hingga merah. Buah terkumpul dalam satu tandan dan terletak diantara pelepah daun. Minyak nabati dihasilkan oleh buah dan kandungan minyak akan meningkat seiring dengan kematangan buah. Buah kelapa sawit memiliki beberapa lapisan yaitu eksokarp (kulit), mesokarp (serabut buah), endokarp (cangkang pelindung biji), dan endosperm atau kernel (Kee et al. 2004).
Sponsor

Penyerbukan dan Pembentukan Buah Kelapa Sawit

Polinasi atau penyerbukan adalah proses perpindahan serbuksari dari kepalasari ke stigma dalam satu bunga atau bunga yang berbeda. Penyerbukan merupakan langkah awal dalam proses reproduksi tumbuhan. Penyerbukan tumbuhan dapat terjadi secara biotik dan abiotik. Penyerbukan biotik terjadi dengan bantuan hewan, sedangkan penyerbukan abiotik terjadi dengan bantuan angin, air, dan gravitasi (Kevan 1999).

Hewan-hewan penyerbuk dapat digunakan sebagai bioindikator dalam ekosistem, yaitu
(1) Sebagai individu yang aktivitasnya dipengaruhi oleh lingkungan;
(2) Sebagai populasi yang dipengaruhi oleh perubahan lingkungan, dan
(3) Sebagai spesies yang berkelompok, berinteraksi dengan individu lain dan lingkungan (Kevan 1999).

Hubungan antara tanaman dan penyerbuk merupakan bentuk interaksi dalam ekosistem pertanian yang berkelanjutan (Siregar 2009). Penyerbukan tanaman oleh hewan berpengaruh terhadap produksi dan pembentukan biji yang lebih baik (Richards 2001). Menurut Obute (2010) proses penyerbukan dapat menghasilkan dan meningkatkan produksi biji sebesar 35%. Agens penyerbuk pada tanaman umumnya dilakukan oleh serangga.

Penyerbuk biasanya tertarik dengan zat yang terkandung pada bunga. Serangga penyerbuk kelapa sawit tertarik dengan senyawa volatil yang dihasilkan oleh bunga pada fase anthesis. Kumbang E. kamerunicus menunjukkan ketertarikan pada bunga jantan kelapa sawit dengan tingkat kemekaran 100%. Hal ini disebabkan oleh komposisi kompleks dari senyawa volatil dengan konsentrasi tinggi. Pada saat anthesis, bunga jantan dan betina kelapa sawit mengeluarkan bau khas yang bersifat attractant bagi kumbang E. kamerunicus. Senyawa volatil mudah menguap dan berwarna kekuning-kuningan. Penyulingan 1 kg bunga jantan dan betina kelapa sawit dapat menghasilkan 0,7 g dan 0,2 g minyak volatil.

Lajis et al. (1985) melaporkan bahwa senyawa yang terkadung dalam minyak tersebut adalah 1-methoxy-4 (2-propenyl) benzene atau estragole. Kumbang E. kamerunicus bersifat spesifik dan beradaptasi dengan baik pada tanaman kelapa sawit. Kumbang ini juga dapat beradaptasi dengan iklim di Indonesia, yaitu pada musim hujan dan musim kering. Penyerbukan pada bunga kelapa sawit oleh E. kamerunicus lebih efektif dibandingkan penyerbukan dengan Thrips hawaiiensis. Thrips kurang efektif pada musim hujan, sehinggga menyebabkan hasil panen yang tidak stabil (Siregar 2006). Keefektifan E. kamerunicus dalam penyerbukan kelapa sawit ditunjukkan dengan meningkatnya hasil panen menjadi 57,7-64,7%. Semakin banyak serbuksari yang menyerbuki putik, akan meningkatkan pembentukan buah normal, yang berkisar antara 70-76% dan menurunkan buah abnormal. Jumlah serbuksari yang sampai pada putik mempengaruhi persentase pembentukan buah normal (Widiastuti & Palupi 2008).

Pada tandan bunga kelapa sawit, tidak seluruh bunga mampu diserbuki. Buah yang terbentuk tanpa proses penyerbukan dan fertilisasi disebut partenokarpi. Buah partenokarpi ini biasanya tanpa biji dan kurang menguntungkan bagi program pembentukan biji/benih (Pardal 2001). Buah kelapa sawit normal hasil penyerbukan, berwarna kuning kemerahan hingga keunguan dan di dalam buah terdapat biji. Buah partenokarpi berukuran lebih kecil dari buah normal, berwarna putih atau kuning pucat, dan tidak memiliki biji.

Morfologi dan Demografi Kumbang E. kamerunicus Kumbang E. kamerunicus berasal dari Kamerun, Afrika Barat. Kumbang ini termasuk dalam famili Curculionidae. Kumbang ini bersifat host-spesific pada bunga jantan kelapa sawit. Kumbang E. kamerunicus memiliki 3 bagian tubuh utama, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Imago kumbang E. kamerunicus berukuran kecil (1,8-4,0 mm) (O’Brien & Woodruff 1986), memiliki moncong yang panjang, sayap depan (elytra) tebal dan sayap belakang tipis (membraneus) (Oberprieler et al. 2007). Kumbang jantan dicirikan dengan moncong yang lebih pendek, terdapat tonjolan pada pangkal elytra, dan adanya rambut-rambut yang cukup banyak. Kumbang betina dicirikan dengan ukuran moncong lebih panjang, tidak ada tonjolan pada elytra, dan memilki rambut yang lebih sedikit.

Kumbang E. kamerunicus bersifat holometabola atau metamorphosis sempurna, yaitu siklus hidupnya terdiri dari telur, larva, pupa, dan imago (Wiegmann & Kim 2009). Demografi merupakan kajian mengenai populasi, yang meliputi jumlah, struktur, dan pertumbuhan. Populasi selalu berubah pada lingkungan dengan sumberdaya yang terbatas. Sebagian besar populasi terbentuk oleh individu-individu yang berbeda umur dan ukuran tubuh. Kebutuhan makanan dan ruang setiap individu pada umumnya juga berbeda. Model perkembangan populasi dapat disusun berdasarkan hasil pengumpulan data kerapatan populasi atau jumlah individu pada waktu tertentu.

Pengamatan populasi tersebut mencakup berbagai umur, yang terbagi dalam waktu tertentu. Hasil pengamatan dicatat ke dalam tabel kajian dinamika populasi yang disebut neraca kehidupan (life table). Dari neraca kehidupan, didapatkan informasi mengenai kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas), dan peluang untuk berkembang biak. Parameter-parameter yang umunya diukur dalam demografi adalah laju reproduksi kotor (G), laju reproduksi bersih (R0), waktu generasi (T), dan laju pertumbuhan intinsik (r). Dengan demikian, diperoleh data ketahanan hidup dalam kelas umur tertentu (Price 1997).

Ketahanan hidup (proporsi hidup) suatu kelompok atau spesies tertentu pada umumnya diilustrasikan dalam bentuk kurva ketahanan hidup. Kurva ketahanan hidup dibangun berdasarkan kelompok individu-individu dari usia yang sama. Paling tidak ada 3 tipe kurva ketahanan hidup, yaitu tipe I, II, dan III. Kurva tipe I mempunyai karakteristik angka kematian yang rendah pada umur muda dan tinggi pada tahap dewasa. Tipe I umumnya terjadi pada sebagian besar mamalia. Kurva tipe II dicirikan dengan angka kematian yang konstan dari umur muda sampai dewasa. Kurva tipe III dicirikan dengan kematian tinggi terjadi pada individu muda. Kurva tipe III biasanya ditemukan pada organisme yang mempunyai kemampuan menghasilkan banyak keturunan, seperti pada serangga (Begon et al. 1996).
 
Copyright © 2011 Bangku Sekolah | Themes by ada-blog.com.