Apa Saja Akibat dari Memudarnya Jati Diri Bangsa

Hubungan negara satu dengan negara lain seolah-olah tanpa ada batasan yang tegas. Suatu negara bebas keluar masuk di negara lain. Oleh karenanya, pengaruh-pengaruh negara lain diserap dan diterima di suatu negara dengan mudah. Sebagaimana Indonesia menyerap budaya, paham, dan gaya hidup dari negara lain. Tanpa adanya penyaring yang kuat pengaruh-pengaruh tersebut justru akan mengancam kepribadian bangsa yang pada akhirnya menghambat terjadinya integrasi. Situasi dan kondisi inilah yang dialami bangsa Indonesia saat ini.

Meminjam istilah Asmah Soetrisno, bangsa Indonesia saat ini sedang terjangkit virus merosotnya semangat kebangsaan, yaitu penyakit governments less (erosi wibawa pemerintah). Kamu dapat melihat tanda-tanda penyakit itu di berbagai tempat. Misalnya, adanya rakyat yang berdemonstrasi untuk menolak kebijakan pemerintah. Tindakan itu menunjukkan bahwa keberadaan hukum sebagai pranata telah diabaikan. Menurut Prof. Dr. Lobby Loeqman, situasi government less terjadi karena hancurnya ikatan kebangsaan di masyarakat Indonesia. Masih banyak lagi yang sedang dialami bangsa Indonesia. Salah satunya rakyat Indonesia mengalami nation less (tidak punya semangat kebangsaan). Di antara mereka merasa seolah-olah bukan warga satu bangsa. Dengan begitu, rasa nasionalisme bangsa Indonesia telah memudar.

Situasi bangsa Indonesia yang government less dan nation less itu disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah masuknya pengaruh asing sebagai akibat globalisasi. Interaksi masyarakat dunia yang sudah mengglobal mengaburkan batas-batas antarnegara. Padahal, interaksi tersebut bukan tidak mungkin dapat berdampak pada eksistensi jati diri bangsa Indonesia. Di mana hal tersebut sudah dirasakan bangsa Indonesia yang sekarang ini sedang melemah paham nasionalismenya, bahkan terancam masalah disintegrasi bangsa. Tentunya, hal itu membahayakan kelangsungan hidup negara Indonesia.

Tiga Permasalahan Mengancam Jati Diri Bangsa

Sebagaimana diketahui bersama bahwa letak Indonesia mendukung munculnya konflik sosial, baik konflik horizontal maupun konflik vertikal. Dari sekian banyak persoalan yang terjadi di Indonesia, terdapat tiga permasalahan pokok yang dapat mengancam jati diri dan kesatuan bangsa.

Pertama, infiltrasi budaya. Semakin mudah masyarakat memperoleh informasi, maka pengaruh budaya luar akan langsung tereduksi dalam kehidupan sosial masyarakat. Yang paling parah kalau budaya tersebut menjadi tren dan gaya hidup masyarakat kita hingga menjadi kontra produktif karena budaya asli kita terisolasi oleh budaya asing. Fenomena kehidupan bebas di kalangan remaja, narkoba dan kejahatan kemanusiaan lainnya merupakan dampak merambahnya budaya asing masuk dalam tatanan kehidupan masyarakat kita.

Kedua, polarisasi ideologi. Ideologi merupakan jati diri atau karakter suatu bangsa. Ideologi memberi karakter dan pengaruh bagi bangsa dalam pergaulan dunia internasional. Ketika transfer informasi semakin mudah, ditunjang dengan gencarnya pemberitaan media massa, baik elektronik maupun cetak, maka paham atau ideologi asing akan dengan mudah masuk dalam kehidupan bangsa kita. Masuknya ideologi asing, secara tidak langsung akan mengubah tatanan kehidupan dan sistem berpikir masyarakat. Berbagai bentuk pemikiran saat ini telah berkembang sedemikian rupa, sehingga mewarnai sistem kehidupan bangsa, mulai dari penganut paham konservatif, sosialisme, Marxisme hingga radikalisme, berbaur menjadi satu dalam kehidupan masyarakat. Kebebasan berpikir tidak menjadi tabu dan haram, akan tetapi ketika kebebasan tersebut sudah melampaui batas-batas logika dan bisa merusak kehidupan social kemasyarakatan, maka hal ini menjadi haram.

Ketiga, distorsi kepentingan. Setiap terjadi perubahan kebijakan, terutama dunia internasional, dengan sendirinya akan terjadi pergeseran kepentingan. Hal inilah yang menyebabkan negara kita semakin terpuruk. Orientasi politik dan ekonomi negara kita sangat terpengaruh paham dunia luar. Kemandirian kita seakan lenyap ketika kepentingan asing masuk ke dalam sistem pemerintahan. Ini terjadi manakala orientasi kepentingan negara kita harus disesuaikan dengan kepentingan pasar dunia, dan bukan lagi berorientasi pada rakyat. Privatisasi usaha-usaha milik negara (BUMN), dan penjualan perusahaan swasta nasional kepada pihak asing adalah bukti konkret ketidakberdayaan kita dalam aspek ekonomi. Akibatnya, negara kita tidak mempunyai kekuatan dalam mengatur dan mengurus ekonomi sendiri. Negara kita pun sangat mudah ”didikte” oleh kepentingan luar (asing) dengan dalih globalisasi dan liberalisasi.
 
Copyright © 2011 Bangku Sekolah | Themes by ada-blog.com.