Lingkup Pekerjaan Dan Peraturan Bangunan

Ruang Lingkup Pekerjaan Bangunan

Bangunan adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukan baik yang ada di atas, di bawah tanah dan/atau di air. Bangunan biasanya dikonotasikan dengan rumah, gedung ataupun segala sarana, prasarana atau infrastruktur dalam kebudayaan atau kehidupan manusia dalam membangun peradabannya seperti halnya jembatan dan konstruksinya serta rancangannya, jalan, sarana telekomunikasi, dan lain-lain.

Teknik bangunan adalah suatu disiplin ilmu teknik yang berkaitan dengan perencanaan, disain, kons-truksi, operasional, renovasi dan pemeliharaan bangunan, termasuk juga kaitannya dengan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
Asma Cars
Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupun prasarana. Dalam bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi juga dikenal sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada suatu atau pada beberapa area. Suatu pekerjaan konstruksi merupakan gabungan atau rangkaian dari banyak pekerjaan.

Pekerjaan konstruksi umumnya diatur oleh seorang manajer konstruksi (construction manager), serta dilaksanakan dan diawasi oleh manajer proyek, tenaga teknik perancangan (design engineer) atau arsitek lapangan (project architect).

Proyek konstruksi adalah rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan upaya pembangunan sesuatu bangunan seperti contoh pada gambar 1.1, umumnya mencakup pekerjaan pokok dalam bidang teknik sipil dan arsitektur, meskipun tidak jarang juga melibatkan disiplin lain seperti teknik industri, mesin, elektro, geoteknik, maupun lansekap.

Masalah Urbanisasi di Indonesia

Urbanisasi di Indonesia

Pada dasarnya, urbanisasi merupakan bagian dari proses migrasi atau proses perpindahan penduduk. Urbanisasi merupakan perpindahan penduduk dari desa atau daerah menuju kota-kota besar dengan maksud untuk mencari pekerjaan yang bersifat menetap. Banyak sekali faktor yang mendorong terjadinya urbanisasi, di antaranya adalah: (1) kehidupan ekonomi yang sulit di desa atau daerah asal yang disebabkan oleh mata pencaharian yang tidak menetap, dan (2) keinginan untuk mengubah nasib menjadi lebih baik di kota-kota tujuan dengan cara mencari pekerjaan yang layak dan sekaligus bersifat menetap.

Sejalan dengan uraian di atas, pembangunan sentra-sentra industri di Indonesia me-mang diperuntukkan bagi penyediaan lapangan kerja baru bagi bangsa Indonesia. Itulah sebabnya, dengan dibangunnya sentra-sentra industri di beberapa kota besar di Indonesia menjadi pendorong utama bagi masyarakat pedesaan untuk melakukan urbanisasi. Beberapa kota besar di Indonesia telah menjadi tujuan utama bagi kaum urban, di antaranya adalah kota metro politan Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Medan, dan lain sebagainya. Beberapa kota tersebut memiliki daya tarik masing-masing sehingga dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan penduduk yang luar biasa sebagai akibat dari datangnya kaum urban.


Arus urbanisasi sebagaimana yang telah diuraikan di atas, selain menimbulkan dampak yang positif juga telah menimbulkan dampak yang negatif. Dampak positif dari urbanisasi dapat diperhatikan pada beberapa hal, seperti:
(1) meningkatnya taraf ekonomi kaum urban,
(2) terpenuhinya tenaga kerja di sektor-sektor industri sehingga menunjang proses industrialisasi, dan sebagainya.

Namun demikian, urbanisasi juga dapat menimbulkan persoalan-persoalan kependudukan yang rumit, seperti: (1) terbengkalainya lahan-lahan pertanian di pedesaan sebagai akibat dari perginya sejumlah tenaga kerja, (2) tingkat kepadatan penduduk di kota-kota besar yang semakin meningkat, (3) kaum urban yang tidak tertampung di sektor perindustrian dan tidak berhasil mencari pekerjaan lain akan menimbulkan pengangguran-pengangguran baru, (4) gejala kemiskinan semakin meningkat yang ditandai oleh tumbuhnya pemukiman-pemukiman kumuh, (5) munculnya tindak kriminalitas dan beberapa perilaku menyimpang lainnya, seperti prostitusi, penyimpangan seksual, dan lain sebagainya.

Nilai Dan Norma Dalam Kehidupan Masyarakat dan Pengertian Nilai Dan Norma Sosial

Nilai Dan Norma Dalam Kehidupan Masyarakat

Sejak manusia dilahirkan hingga hari akhir dari kehidupannya di dunia sesungguhnya tidak pernah lepas dari proses belajar, yakni belajar untuk menjadi mausia seutuhnya. Agar menjadi manusia seutuhnya seseorang harus mempelajari dirinya sendiri yang memiliki potensi yang bisa dikembangkan dan memiliki sifat-sifat unik yang membedakan dengan orang lain, mempelajari kehidupan kemasyarakatan lengkap dengan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku, mempelajari lingkungan secara luas sehingga dapat berperan dan berperilaku secara tepat, dan mempelajari kaidah-kaidah agama yang membimbing hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Proses belajar untuk menjadi manusia seutuhnya tentu merupakan suatu proses yang tidak akan kunjung selesai. Dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat, seseorang harus memahami sistem kehidupan masyarakat di mana ia menetap yang meliputi sistem nilai, sistem norma, adat istiadat, dan kebiasaan yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat tersebut. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan yang boleh atau yang tidak boleh, yang baik atau yang tidak baik, yang tepat atau yang tidak tepat untuk dilakukan sehingga seseorang tersebut dapat menempatkan dirinya secara serasi, selaras, dan seimbang dalam kehidupan sosial. Berhasil atau tidaknya seseorang dalam menjalin kehidupan bermasyarakat bergantung kepada proses pembelajaran. Dalam dunia sosiologi proses pembelajaran dikenal dengan istilah sosialisasi.


Pengertian Nilai Dan Norma Sosial


Secara umum masyarakat Indonesia menempatkan orang yang tua pada posisi yang lebih dihormati sedangkan orang yang lebih muda ditempatkan pada posisi yang lebih disayangi. Itulah sebabnya, dalam penggunaan bahasa misalnya, masyarakat Sunda, Jawa, Madura, Bali, dan bahkan suku-suku lain di Indonesia memiliki tingkatan-tingkatan bahasa tertentu sebagai wujud dari rasa hormat dan rasa sayang dalam kehidupan sosial. Ini berarti terdapat nilai-nilai dan norma-norma yang dianggap sebagai prinsip dalam peri kehidupan bermasyarakat. Nilai dan norma tersebut mengandung sesuatu yang dianggap baik, benar, berharga, dan sekaligus dijadikan patokan dasar dalam melakukan interaksi sosial.

Nilai dan norma memegang peranan yang sangat penting sebagai pengatur tata kehidupan bermasyarakat. Nilai dan norma bersifat abstrak dan merupakan unsur terpenting dari suatu kebudayaan. Nilai dan norma harus dijunjung tinggi agar peri kehidupan sosial dapat terjalin secara harmonis sehingga tercipta stabilitas sosial. Pelanggaran terhadap sistem nilai dan norma akan menimbulkan konflik dalam kehidupan sosial.
Pada dasarnya segala aspek kehidupan manusia mengandung nilai dan norma. Nilai dan norma tersebut telah menyatu di dalam diri sehingga mewarnai kepribadian. Sudah barang tentu nilai dan norma yang ada pada masyarakat berbeda-beda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya. Kalau begitu, apakah yang dimaksud dengan nilai dan norma tersebut?

Terdapat beberapa definisi tentang nilai sosial yang diberikan oleh ahli-ahli sosiologi. Woods berpendapat bahwa nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Kimball Young berpendapat bahwa nilai sosial merupakan asumsi-asumsi abstrak mengenai apa yang benar dan yang penting. Sedangkan M.Z. Lawang berpendapat bahwa nilai sosial merupakan gambaran mengenai apa yang diinginkan, yang pantas, yang berharga, dan yang mempengaruhi perilaku sosial.

Berdasar pada beberapa definisi di atas, nilai sosial merupakan standar normatif bagi manusia dalam berperilaku sosial. Nilai sosial merupakan sikap dan perasaan yang diterima oleh masyarakat sebagai dasar untuk merumuskan apa yang dianggap benar dan penting. Nilai sosial sangat besar peranannya dalam membentuk pandangan hidup. Perwujudan nilai-nilai sosial dalam peri kehidupan juga akan membentuk identitas budaya suatu masyarakat tertentu yang membedakan dengan budaya masyarakat yang lain.

Jika nilai merupakan asumsi-asumsi yang bersifat abstrak, maka norma merupakan bentuk kongrit dari sistem nilai yang ada dalam masyarakat. Norma sosial merupakan pedoman-pedoman berperilaku dalam bermasyarakat yang berupa aturan-aturan dan sanksi-sanksi yang dikenakan baik terhadap individu maupun kelompok dalam masyarakat secara keseluruhan dalam rangka mewujudkan nilai-nilai sosial.

Norma sosial berkembang bersamaan dengan berkembangnya kebutuhan masyarakat akan arti penting keteraturan sosial atau ketertiban sosial. Norma sosial sangat besar peranannya di dalam pembentukan identitas suatu masyarakat. Dengan demikian, norma sosial akan menegaskan keberadaan (eksistensi) suatu masyarakat. Norma sosial akan mengakar dalam peri kehidupan masyarakat melalui proses pelembagaan dan proses internalisasi. Proses pelembagaan (institutionalization) merupakan proses pengenalan, pengakuan, dan penghargaan norma oleh masing-masing individu untuk kemudian dijadikan pedoman dalam proses interaksi sosial. Sedangkan proses internalisasi (internalized) merupakan proses penjiwaan suatu norma sehingga merasuk sebagai sebuah kepribadian.

Macam-Macam Norma Dalam Kehidupan Masyarakat

Macam-Macam Norma Dalam Kehidupan Masyarakat


Perwujudan norma sosial dapat berbentuk tertulis dan tidak tertulis. Berdasar kekuatan yang mengikat sistem nilai dalam kehidupan masyarakat, norma sosial dapat digolongkan dalam beberapa macam, yaitu cara (usage), kebiasaan (folkways), tata susila (mores), adat istiadat (customs), hukum (laws), dan agama (religion).

1. Cara (Usage)

Cara (usage) terbentuk melalui proses interaksi yang berlangsung secara konstan sehingga membentuk sebuah pola perilaku tertentu. Sistem nilai yang terikat dalam bentuk cara (usage) ini relatif lemah sehingga sanksi terhadap pelanggaran norma ini hanyalah sebuah predikat “tidak sopan” saja. Di antara contoh-contoh norma ini adalah berdecak atau bersendawa di waktu makan, mengeluarkan ingus di sembarang tempat, buang air sambil berdiri di pinggir jalan, dan lain sebagainya.

2. Kebiasaan (Folkways)

Perilaku yang terjadi secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama akan membentuk kebiasaan (folkways). Norma ini diakui keberadaannya di tengah-tengah masyarakat sebagai salah satu standar dalam interaksi sosial. Kebiasaan (folkways) tergolong sebagai norma ringan sehingga pelanggaran terhadap norma ini akan dikenai sanksi berupa gunjingan, sindiran, atau teguran. Di antara contoh dari norma ini adalah menerima pemberian dengan tangan kanan, makan dengan tangan kanan, mengetuk pintu jika ingin memasuki kamar orang lain, memberi salam pada saat bertamu, menerima tamu dengan ramah dan sopan.

3. Adat Istiadat (Customs)

Adat istiadat (customs) adalah tata perilaku yang telah terpola dan terintegrasi secara tetap dalam suatu masyarakat serta mengikat peri kehidupan masyarakat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pelanggaran terhadap norma adat akan dikenakan sanksi yang cukup berat, seperti dikucilkan dari masyarakat karena dianggap sebagai pangkal masalah dalam tata kehidupan masyarakat tersebut.

4. Agama (Religion)

Ajaran-ajaran agama memegang peranan yang sangat vital sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan secara benar, yakni mengajarkan tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antara sesama manusia, dan hubungan antara manusia dengan makhluk lainnya. Pemahaman dan penerapan ajaran agama secara benar akan menciptakan tata kehidupan yang harmonis. Sebaliknya, pelanggaran terhadap norma-norma agama akan menimbulkan konflik, baik yang bersifat individual maupun yang bersifat sosial.
Norma-norma agama dilaksanakan berdasarkan keimanan dan ketakwaan. Pelanggaran terhadap norma agama akan dikenakan sanksi-sanksi tertentu, baik sanksi yang dikenakan di dunia maupun sanksi yang diyakini akan terjadi di akhirat kelak. Agama memang sangat sarat dengan ajaran-ajaran tentang pola kehidupan yang baik dan benar untuk kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat kelak.

5. Hukum (Laws)

Hukum (laws) merupakan aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat yang berupa ketentuan, perintah, kewajiban, dan larangan, agar tercipta keamanan, ketertiban, dan keadilan. Berdasarkan wujudnya, hukum (laws) terdiri atas dua macam, yaitu (1) hukum tertulis, yakni aturan-aturan yang dikodifikasikan dalam bentuk kitab undang-undang. Dan (2) hukum tidak tertulis (konvensi), yakni aturan-aturan yang diyakini keberadaannya secara adat meskipun tidak dikodifikasikan dalam bentuk kitab undang-undang.
Tatakrama dengan orang yang lebih tua merupakan salah bentuk norma sosial
Tatakrama dengan orang yang lebih tua merupakan salah bentuk norma sosial


Dibandingkan dengan norma-norma lainnya, hukum merupakan norma yang paling tegas. Pelanggaran terhadap norma hukum ini akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan-aturan yang terdapat dalam hukum tersebut. Untuk menegakkan hukum pemerintah membentuk lembaga penegak hukum seperti mahkamah agung, lembaga kehakiman, kepolisian, dan sebagainya.

6. Mode (Fashion)

Mode (fashion) merupakan gaya hidup yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat dalam waktu-waktu tertentu. Pada dasarnya gaya hidup merupakan penampilan tertentu yang sedang trend dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan demikian mode (fashion) dapat dilihat pada model rambut, model pakaian, model kendaraan, model rumah, model perilaku yang ditunjukkan dalam acara-acara tertentu, dan sebagainya. Mode (fashion) dianggap sebagai cermin kehidupan modern, sehingga orang yang tidak mengikuti mode biasanya akan dianggap ketinggalan zaman.
Trend yang tengah berkembang merupakan salah satu bentuk norma sosial
Trend yang tengah berkembang merupakan salah satu bentuk norma sosial


Berkembangnya mode yang melampaui batas seperti pakaian seksi, rumah mewah, mobil mewah, kehidupan seronok, dan sebagainya dapat menciptakan konflik baik yang bersifat individual maupun yang bersifat sosial. Oleh karena itu berkembangnya mode (fashion) perlu diimbangi dengan penanaman norma-norma agama yang mantap sehingga masyarakat akan terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari perkembangan dunia mode (fashion).

Kaitan Antara Nilai Sosial, Norma Sosial, Dan Interaksi Sosial

Kaitan Antara Nilai Sosial, Norma Sosial, Dan Interaksi Sosial


Di dalam kehidupan sosial berkembang beberapa sistem nilai. Secara garis besar sistem nilai tersebut dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) sistem nilai yang berhubungan dengan benar dan salah yang disebut dengan logika, (2) sistem nilai yang berhubungan dengan baik dan buruk atau pantas dan tidak pantas yang disebut dengan etika, dan (3) sistem nilai yang berhubungan dengan indah dan tidak indah yang disebut dengan estetika.

Nilai-nilai sosial sangat erat kaitannya dengan norma-norma sosial. Jika nilai sosial dikatakan sebagai standar normatif dalam berperilaku sosial yang merupakan acuan-acuan sikap dan perasaan yang diterima oleh masyarakat sebagai dasar untuk merumuskan apa yang dianggap benar dan penting, maka norma sosial merupakan bentuk kongkrit dari nilai-nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat. Di dalam sistem norma terdapat aturan-aturan dan sanksi-sanksi jika aturan-aturan tersebut dilanggar. Dengan demikian, sistem nilai dan sistem norma tersebut akan melandasi perilaku setiap individu dalam berinteraksi di kehidupan masyarakat.

Nilai dan norma memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Dapat kita perhatikan contohnya pada nilai-nilai etis dalam berlalu lintas. Pada prinsipnya setiap orang harus menjaga nilai-nilai etis di dalam berlalu lintas. Untuk merealisasikan sistem nilai tersebut disusunlah norma-norma untuk mengatur lalu lintas yang terdiri dari seperangkat aturan main dan sekaligus penegaknya.

Misalnya ada rambu-rambu lalu lintas, kendaraan harus dilengkapi dengan surat-surat dan perlengkapan lainnya, pengendara motor wajib mengenakan helm, pengemudi harus memiliki SIM, dan ketentuan-ketentuan lainnya yang harus dipenuhi. Jika terdapat pengendara yang melanggar aturan-aturan tersebut maka akan ditilang. Tilang hanya akan dikenakan kepada mereka yang terbukti telah melakukan pelanggaran.
Kaitan Antara Nilai Sosial, Norma Sosial, Dan Interaksi Sosial

Banyak sekali contoh-contoh lain yang memperlihatkan hubungan antara nilai- nilai sosial, norma-norma sosial, dengan interaksi sosial. Hampir semua interaksi di dalam kehidupan sosial kita diliputi oleh aturan-aturan main tersebut. Nah, coba carilah contoh lain tentang hubungan antara nilai sosial, norma sosial, dan interaksi sosial yang ada di lingkungan sekitar kalian berada.

Pola Interaksi Sosial Antar Komponen Masyarakat

Pola Interaksi Sosial Antar Komponen Masyarakat


Tentu kalian tidak asing lagi dengan istilah masyarakat. Tetapi, apakah sesungguhnya definisi dari masyarakat tersebut? Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningrat mengatakan masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Pandangan tersebut sekaligus menegaskan bahwa di dalam masyarakat terdapat berbagai komponen yang saling berinteraksi secara terus menerus sesuai dengan sistem nilai dan sistem norma yang dianutnya. Interaksi antar komponen tersebut dapat terjadi antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok. Lalu, apakah yang dimaksud dengan interaksi sosial tersebut?

Pada dasarnya interaksi sosial merupakan sebuah proses hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi, baik antarindividu, antarindividu dengan kelompok, maupun antarkelompok dengan kelompok dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian dapat diketahui bahwa di dalam interaksi sosial terdapat beberapa ciri sebagai berikut: (1) jumlah pelakunya lebih dari satu orang, (2) terjadi komunikasi antarpelaku melalui kontak sosial, (3) memiliki maksud dan tujuan yang jelas, dan (4) dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu. Tindakan sosial adalah pola tindakan manusia yang dilaksanakan berdasarkan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

Secara kodrat, manusia tidak mungkin dapat melangsungkan kehidupannya seorang diri. Artinya, setiap orang memerlukan bantuan dan pertolongan dari orang lain. Dengan demikian, interaksi sosial merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi setiap orang dalam kehidupan masyarakat.

1. Pola Interaksi Sosial antara Individu dengan Individu

Tentu kalian pernah berkeluh kesah, mengadukan sesuatu kepada ibu kalian. Hubungan kalian dengan ibu kalian merupakan salah satu bentuk interaksi sosial antara individu dengan individu. Interaksi sosial antara individu dengan individu merupakan sebuah proses interaksi yang terjadi antara dua orang untuk saling mempengaruhi dalam rangka mencapai kepentingan bersama. Dalam interaksi sosial antarindividu ini seseorang memberikan pengaruh kepada yang lain, selanjutnya orang lain tersebut memberikan tanggapan sehingga terjadilah kontak antara keduanya. Wujud interaksi sosial antarindividu antara lain dapat berbentuk saling berjabat tangan, saling bertegur sapa, saling berdebat, dan bahkan saling bertengkar.


Interaksi sosial antara individu dengan individu tersebut dapat bersifat positif, yakni berupa hubungan antara dua orang yang menimbulkan hubungan yang harmonis, maupun bersifat negatif, yakni hubungan antara dua orang yang justru menimbulkan konflik.

Di dalam interkasi sosial antarindividu tidak terdapat aturan main yang jelas. Yang diperlukan dalam interaksi sosial antarindividu adalah sikap saling menghormati, saling menghargai, saling bertenggang rasa, dan komitmen untuk saling menjaga hubungan. Jika interaksi sosial dilaksanakan dengan sikap dan komitmen positif seperti tersebut maka interaksi sosial akan berdampak positif. Sebaliknya, jika interkasi sosial dilaksanakan tanpa komitmen untuk saling menjaga perasaan masing-masing dapat menimbulkan dampak yang negatif seperti perkelahian, percekcokan, dan lain sebagainya.

2. Pola Interaksi Sosial antara Individu dengan Kelompok

Coba perhatikan interaksi yang terjadi di dalam kelas antara seorang guru dengan para pelajar saat proses pembelajaran berlangsung. Interaksi seperti itu merupakan satu contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Berdasarkan contoh seperti ini dapat ditarik kesimpulan bahwa interaksi sosial antara individu dengan kelompok merupakan proses hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi yang terjadi antara seseorang dengan sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Interaksi sosial antara individu dengan kelompok dapat terjadi dalam forum-forum yang bersifat resmi seperti kegiatan belajar mengajar di kelas antara seorang guru dengan para pelajar, kegiatan penyuluhan pertanian oleh pegawai penyuluh terhadap para petani, dan lain sebagainya. Interaksi yang bersifat resmi seperti ini sudah barang tentu membutuhkan tata tertib yang bersifat resmi pula. Disamping itu, interaksi sosial antara individu dengan kelompok juga dapat terjadi pada forum yang tidak resmi seperti interaksi antara seorang penjual obat dengan kerumunan orang di pasar yang terjadi berdasarkan ketertarikan semata sehingga tidak ada aturan yang mengikat.


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat adanya interaksi sosial yang terjadi antar kelompok dengan kelompok. Rombongan keluarga calon mempelai pria yang berkunjung ke kediaman keluarga calon mempelai wanita dalam rangka lamaran, dua tim sepakbola yang sedang bertanding, studi banding antara pengurus OSIS sekolah satu dengan sekolah lainnya, dan lain sebagainya merupakan contoh-contoh interaksi sosial yang terjadi antara kelompok dengan kelompok.


Interaksi sosial antara kelompok dengan kelompok merupakan suatu hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara sekelompok orang dengan kelompok lainnya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pola interaksi sosial yang terjadi antara kelompok dengan kelompok ini biasanya lebih bersifat resmi, dalam arti lebih terikat oleh adanya sistem nilai dan sistem norma yang dianut. Dua tim sepak bola akan bertanding berdasarkan peraturan yang berlaku, keluarga calon mempelai laki-laki yang berkunjung dan melamar ke kediaman keluarga calon mempelai wanita berdasarkan tata cara tertentu, studi banding antara pengurus OSIS sekolah yang satu dengan pengurus OSIS sekolah yang lain akan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama, dan lain sebagainya.


Latar Belakang Terjadinya Interaksi Sosial dalam Kehidupan Manusia

Latar Belakang Terjadinya Interaksi Sosial dalam Kehidupan Manusia

Interaksi sosial terjadi karena terpenuhinya beberapa syarat, yaitu: (1) adanya tujuan yang jelas, (2) adanya kebutuhan yang jelas, (3) adanya kesesuaian antara sistem nilai dan sistem norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Terjadinya interaksi sosial dilandasi oleh beberapa faktor, antara lain adalah imitasi, identifikasi, motivasi, sugesti, simpati, empati, dan lain-lain.

a. Imitasi

Imitasi merupakan suatu proses sosial, yakni tindakan seseorang untuk meniru sikap, penampilan, gaya hidup, dan apa saja yang ada pada diri orang lain. Untuk pertama kalinya proses imitasi terjadi di lingkungan keluarga. Itulah sebabnya keluarga dianggap sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama karena di lingkungan keluargalah seseorang mulai melakukan proses peniruan atau imitasi. Berangkat dari lingkungan keluarga tersebut proses peniruan atau imitasi akan terus berkembang menuju lingkungan yang lebih luas.

Semakin tinggi intensitas interaksi seseorang, maka semakin tinggi pula proses imitasi yang berlangsung. Untuk mengurangi terjadinya kemungkinan-kemungkinan negatif, maka orang tua perlu memberikan lingkungan yang kondusif dan/atau mengarahkan anak-anak kepada lingkungan yang positif, yakni lingkungan yang sesuai dengan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku.

b. Identifikasi

Identifikasi merupakan kecenderungan pada diri seseorang untuk menjadi sama (identik) dengan individu lain yang menjadi idolanya. Dibandingkan dengan imitasi, proses identifikasi lebih mendalam karena di dalamnya bukan saja terjadi proses peniruan tetapi juga terjadi proses penjiwaan. Fenomena identi fikasi dapat diperhatikan pada perilaku para pemuda yang meniru-niru bintang idolanya.

c. Motivasi

Motivasi merupakan dorongan yang ada pada diri seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Dilihat dari Gambarnya, motivasi digolongkan atas dua macam, yakni motivasi yang ber Gambar dari dalam diri seseorang (motivasi intern) dan motivasi yang ber Gambar dari luar diri seseorang (motivasi ekstern). Motivasi yang ber Gambar dari dalam diri seseorang (motivasi intern) akan lebih tahan lama dibandingkan dengan motivasi yang ber Gambar dari luar diri seseorang (motivasi ekstern).

d. Sugesti

Sugesti merupakan pengaruh-pengaruh yang diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada seseorang atau sekelompok orang sedemikian rupa sehingga orang yang diberi sugesti tersebut akan menuruti apa yang menjadi keinginan dari si pemberi sugesti tanpa pertimbangan-pertimbangan yang bersifat rasional. Sugesti dapat berbentuk beberapa macam, seperti sikap, perilaku, pendapat, saran, anjuran, dan sebagainya yang disampaikan secara halus. Fenomena sugesti dapat diperhatikan pada interaksi antara dokter dengan pasien, interaksi antara guru dengan para pelajar, iklan obat kuat yang diperagakan oleh aktor yang gagah perkasa, dan lains sebagainya. Biasanya sugesti akan mudah mengena kepada seseorang atau sekelompok orang yang berada dalam posisi yang lemah, sakit, tertekan, atau frustrasi.

e. Simpati dan empati

Simpati merupakan gejala kejiwan yang ditandai dengan adanya ketertarikan terhadap sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang atau sekelompok orang. Simpati biasanya ditandai dengan adanya rasa tertarik atau bahkan rasa cinta kepada seseorang atau sekelompom orang. Sedangkan empati merupakan agak mirip dengan simpati, yakni merupakan gejala kejiwaan tetapi dibarengi dengan perasaan organisma tubuh yang sangat dalam sehingga seolah-olah ikut merasakan penderitaan seseorang atau sekelompok orang yang terkena musibah. Misalnya, kita ikut merasa iba sampai meneteskan air mata ketika menyaksikan peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa.

 
Copyright © 2011 Bangku Sekolah | Themes by ada-blog.com.