Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

?

You can also receive Free Email Updates:

Powered By Blogger Widgets

Proses Siklus Hidrologi dan Air Tanah

Sirkulasi atau perputaran massa air di Bumi diawali dengan proses pemanasan muka Bumi oleh pancaran sinar matahari. Akibat proses pemanasan ini, sebagian massa air mengalami penguapan ke udara.

Proses penguapan air terjadi dalam beberapa cara yaitu sebagai berikut.

  1. Evaporasi, yaitu proses penguapan air dari permukaan Bumi (yang berasal dari danau, laut, dan sungai) secara langsung melalui pemanasan atau penyinaran matahari.
  2. Transpirasi, yaitu proses penguapan air dari tubuh makhluk hidup melalui aktivitas metabolisme organisme (tumbuhan, hewan, dan manusia).
  3. Evapotranspirasi, yaitu gabungan proses penguapan evaporasi dan transpirasi.
Pada saat massa air menguap ke atmosfer, uap air tersebut mengalami penurunan suhu yaitu 0,5°C–0,6°C. Akibat penurunan suhu atmosfer terjadi proses kondensasi atau pengembunan di mana uap air kembali berubah menjadi titik-titik air yang dikenal dengan awan.

Kumpulan awan pada atmosfer ada kalanya dipindahkan lokasinya ke wilayah lain oleh gerakan angin. Namun, terkadang langsung dijatuhkan kembali sebagai curahan hujan atau presipitasi. Di daerah pegunungan tinggi, curahan hujan ini dapat terjadi dalam bentuk kristal es dan salju karena suhu udara di sekitarnya sangat dingin di bawah titik beku.
Siklus hidrologi yang terjadi di alam sebagai fenomena hidrosfer

Beberapa proses alam yang terjadi pada saat hujan turun adalah sebagai berikut.
  1. Langsung jatuh kembali ke laut.
  2. Sebelum sampai ke permukaan Bumi, langsung menguap kembali ke atmosfer.
  3. Jatuh di atas daun-daun dan ranting tetumbuhan dan menguap kembali ke atmosfer sebelum sampai ke permukaan Bumi. Proses penguapan titik-titik air hujan dari ranting dan dedaunan ini dinamakan intersepsi.
  4. Jatuh ke permukaan Bumi dan meresap melalui lapisan-lapisan tanah dan menjadi persediaan air tanah. Proses ini dinamakan infiltrasi.
  5. Jatuh ke permukaan Bumi dan menggenang, kemudian bergerak atau mengalir di permukaan Bumi sebagai air larian permukaan (surface run off). Proses ini dapat terjadi jika tanah sudah jenuh air karena hujan berlangsung lama dengan intensitas tinggi atau tanahnya miring.
Proses transformasi massa air ini terus berlangsung, seolah-olah membentuk lingkaran daur yang tidak terputus. Oleh karena itu, proses sirkulasi air di Bumi ini dinamakan Siklus Hidrologi.

Air Tanah

Pada pembahasan daur hidrologi telah kita bicarakan bahwa pada saat turun hujan, sebagian titik-titik air hujan tersebut akan meresap ke dalam pori-pori tanah dan menjadi cadangan air tanah. Besar kecilnya daya serap lapisan-lapisan tanah dinamakan kapasitas infiltrasi.

Kapasitas infiltrasi sangat bergantung dari fenomena alam berikut.
  • Tingkat Kelembapan Tanah
Tanah-tanah yang kondisinya kering memiliki kemampuan untuk menyerap air lebih banyak dibandingkan dengan tanah yang lembap, bahkan tanah yang jenuh dengan air tidak mampu lagi menyerap air dari permukaan tanah.
  • Tingkat Poreusitas Tanah atau Batuan
Poreusitas dapat diartikan sebagai banyak tidaknya pori-pori tanah yang dapat meloloskan air dari satu lapisan ke lapisan tanah lainnya. Tanah-tanah yang gembur dengan poreusitas tinggi mampu menyerap dan meloloskan air lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang padat (pejal). Jenis batuan atau tanah yang tidak dapat menyerap dan meloloskan air dinamakan lapisan kedap air atau lapisan impermeabel.
  • Kemiringan Lereng
Tanah-tanah yang datar memiliki kapasitas infiltrasi lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang miring. Sebagian besar air hujan yang jatuh di daerah-daerah dengan kemiringan lereng tinggi sering kali langsung bergerak sebagai air larian, sedangkan di daerah yang relatif datar lebih banyak yang meresap ke dalam pori-pori tanah.

Massa air yang berinfiltrasi dari permukaan bumi seperti diungkapkan tersebut, selanjutnya meresap ke dalam lapisan-lapisan tanah sampai pada batas batuan atau yang impermeabel. Di atas lapisan impermeabel massa air itu berkumpul membentuk air tanah permukaan (air tanah freatik).

Kedalaman air tanah freatik ini tentunya berbeda-beda di berbagai tempat, bergantung pada lokasi lapisan impermeabel dan banyaknya massa air tanah. Di wilayah perbukitan atau pegunungan, biasanya lokasi air tanah sangat dalam, sedangkan di kawasan dataran atau cekungan, lokasinya relatif dangkal. Fluktuasi kedalaman air tanah freatik juga sangat bergantung dari musim. Pada musim penghujan, biasanya tinggi muka air tanah relatif lebih dangkal dibandingkan saat musim kemarau.

Air tanah freatik dapat dimanfaatkan oleh penduduk sebagai sumber daya air bersih dengan cara membuat sumur gali. Oleh karena itu untuk mengetahui rata-rata kedalaman muka air tanah freatik di suatu tempat, kita dapat mengamati rata-rata kedalaman sumur gali yang dimiliki penduduk di sekitar daerah tersebut.
Bagan air tanah artesis
Di bawah lapisan batuan impermeabel (lapisan kedap air) juga terdapat massa air tanah yang dikenal dengan air tanah dalam atau air artesis. Lokasi air artesis biasanya sangat dalam dan terletak di antara lapisan batuan kedap air yang keras, namun jumlah atau persediaannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan air tanah freatik. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan air tanah dalam biasa diupayakan melalui pembuatan sumur-sumur artesis atau sumur bor.

Kondisi Iklim Indonesia dan Pengaruh Cuaca dan Iklim bagi Kehidupan

Penyebaran tumbuh-tumbuhan pada zone panas adalah padi, kelapa, kelapa sawit, jagung, tebu, kopi, dan perkebunan karet (Havea braziliensis). Batas produktif untuk karet kurang lebih 700 meter di atas permukaan laut. Pada zone sedang sejuk, umumnya mulai adanya lahan yang cocok untuk perkebunan teh (Tea assamica dan Tea Cinica) dan perkebunan kina (Cinchonna). Pertanian hortikultura adalah kol, kacang, tomat, kentang, dan cabe. Zona dingin masih ditumbuhi jenis rumput alpina, rhododendrom, dan lumut. Zone dingin pada ketinggian 3500 atau 4400 meter dpl, sering tertutup oleh salju seperti Puncak Jayawijaya, Papua.

Secara umum, Indonesia berada pada zone iklim tropis karena posisi lintangnya yang terletak antara 6°LU–11°LS. Namun karena adanya berbagai faktor geografis, pola iklim negara Indonesia memiliki karakteristik tersendiri. Beberapa faktor yang mem pengaruhi pola iklim Indonesia antara lain sebagai berikut.

  1. Letak wilayah Indonesia di sekitar ekuator mengakibatkan rata-rata suhu tahunan senantiasa tinggi (suhu bulan terdingin masih di atas 18°C), karena penyinaran Matahari senantiasa tegak.
  2. Letak kepulauan Indonesia di sekitar ekuator mengakibatkan sebagian besar wilayahnya berada pada kawasan angin tenang (doldrum) sehingga terbebas dari bencana akibat badai tropis (siklon).
  3. Bentuk wilayah Indonesia berupa kepulauan yang dikelilingi laut mengakibatkan rata-rata kelembapan udara tinggi, bahkan pada musim kemaraupun kelembapan relatifnya masih di atas 70%–80%.
  4. Posisi negara Indonesia yang diapit oleh samudra dan benua mengakibatkan pola iklim Indonesia dipengaruhi sirkulasi angin muson yang berembus dari benua Asia atau Australia.
  • Pola Suhu Indonesia
Kondisi suhu udara di atas kepulauan Indonesia senantiasa berkisar sepanjang tahun rata-rata di atas 18°C. Suhu udara harian biasanya mencapai puncaknya sekitar pukul 14.00–15.00, sedangkan suhu terendah biasanya sekitar pukul 05.00–06.00. Selain itu, rata-rata suhu harian dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian.
  • Pola Curah Hujan Indonesia
Curah hujan di wilayah Indonesia berbeda-beda di berbagai tempat. Terdapat daerah-daerah yang memiliki curah hujan sangat tinggi, namun ada pula yang relatif rendah. Secara umum, rata-rata curah hujan kawasan Indonesia bagian barat lebih tinggi dibanding kan dengan bagian tengah dan timur.

Oleh karena posisi lintang Indonesia terletak di sekitar ekuator, pola curah hujan di atas wilayah Indonesia dipengaruhi oleh pergeseran Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT). Bulan-bulan yang memiliki curah hujan terbanyak biasanya sesuai dengan posisi DKAT. Sebagai contoh, wilayah Pulau Jawa dilalui oleh garis DKAT sekitar Januari dan Februari. Pada bulan-bulan inilah curah hujan Pulau Jawa mencapai titik tertinggi. Adapun pengaruh DKAT adalah di wilayah tersebut massa udara naik secara vertikal ke atmosfer sehingga banyak membentuk awan dan mengakibatkan turunnya hujan zenithal atau hujan konveksional.
Hujan zenithal atau sering disebut dengan konveksional
Berdasarkan rata-rata curah hujan tahunan, Kepulauan Indonesia dibagi ke dalam empat daerah hujan, yaitu sebagai berikut.
  1. Daerah curah hujan di atas 3.000 mm/tahun, yaitu wilayah dataran tinggi Sumatra Barat, Kalimantan Tengah, beberapa daerah di Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Lombok, dan dataran tinggi Papua.
  2. Daerah curah hujan antara 2.000–3.000 mm/tahun, yaitu sebagian wilayah Sumatra Timur, Kalimantan Selatan dan Timur, sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian besar wilayah Papua dan Maluku.
  3. Daerah curah hujan di atas 1.000–2.000 mm/tahun, yaitu sebagian besar wilayah Nusa Tenggara, Kepulauan Aru dan Kepulauan Tanimbar, serta daerah Merauke.
  4. Daerah curah hujan kurang dari 1.000 mm/tahun, meliputi wilayah padang rumput di Nusa Tenggara, kota Palu dan Luwuk Sulawesi Tengah.

Pengaruh Cuaca dan Iklim bagi Kehidupan

Cuaca dan iklim merupakan salah satu faktor alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pengetahuan tentang pola musim, curah hujan, dan gerakan angin misalnya dapat dimanfaatkan bagi sektor pertanian, perkebunan, dan transportasi. Selain itu pengetahuan tentang karakteristik atmosfer dapat kita manfaatkan untuk pemantulan gelombang radio.
  • Pemanfaatan Cuaca dan Iklim dalam Bidang Pertanian
Bagi Indonesia yang sebagian besar penduduknya bergerak dalam sektor agraris, karakter iklim seperti curah hujan, suhu, dan musim sangat mempengaruhi pola kehidupannya. Pada zaman dahulu ketika pengetahuan cuaca dan iklim belum berkembang, nenek moyang kita sudah memanfaatkan datangnya musim bagi pola tanam. Mereka berpendapat bahwa bulan-bulan yang berakhiran kata ber (September, Oktober, November, dan Desember) merupakan musim hujan. Pada musim hujan, para petani mulai turun ke sawah dan ladang untuk mengolah lahan.

Melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian, faktor-faktor iklim benar-benar dijadikan salah satu pertimbangan dalam penentuan kecocokan jenis tanaman yang akan dibudidayakan di suatu tempat. Misalnya, tanaman padi sangat cocok jika dibudidayakan di daerah dataran rendah yang beriklim panas, sedangkan perkebunan hortikultur sangat baik dikembangkan di dataran tinggi yang suhunya relatif sejuk.
Cuaca dan iklim sangat berpengaruh pada penentuan berbagai pengolahan lahan pertanian
Para nelayan tradisional sering kali memanfaatkan pola angin dan musim pada aktivitas mencari ikan. Sebagai contoh, pada zaman dulu para nelayan memanfaatkan angin darat dan angin laut untuk pergi dan pulang menangkap ikan di laut. Selain itu, para nelayan jarang mencari ikan pada periode berembusnya angin barat, karena sering terjadi angin ribut dan disertai hujan lebat.
  • Pemanfaatan Cuaca dan Iklim dalam Bidang Komunikasi
Salah satu lapisan atmosfer Bumi adalah ionosfer yang memiliki kemampuan memantulkan gelombang radio. Sifat fisik lapisan ini dimanfaatkan manusia dalam bidang komunikasi untuk penyiaran radio, sehingga arus informasi dapat dengan mudah dan cepat diterima oleh masyarakat.

Melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang atmosfer dan sistem komunikasi, saat ini negara kita telah memiliki satelit komunikasi PALAPA yang ditempatkan di atmosfer pada lokasi geostasioner dengan ketinggian sekitar 36.000 km di atas muka Bumi.
  • Pemanfaatan Cuaca dan Iklim dalam Bidang Transportasi
Dalam bidang transportasi, faktor-faktor cuaca seperti pola angin dan curah hujan sangat mempengaruhi kelancaran jalur transportasi, baik transportasi laut maupun udara. Sebagai contoh jalur pelayaran akan sangat terganggu jika terjadi angin ribut atau badai yang disertai hujan lebat. Demikian pula dalam sistem transportasi udara. Oleh karena itu, setiap hari televisi senantiasa menginformasikan prakiraan cuaca.
  • Pemanfaatan Cuaca di Bidang Industri
Pada industri tradisional banyak yang masih bergantung pada kondisi cuaca. Industri itu umumnya yang membutuhkan panas Matahari, antara lain industri genteng, batu bata, dan kerupuk. Cuaca juga mempengaruhi aktivitas penduduk sehari-hari.


Suatu teknik baru yang sangat menarik untuk menelaah iklim masa lalu adalah pemakaian suatu alat yang disebut “termometer geologi”, yang dikembangkan ahli kimia bangsa Amerika bernama Harold C. Vrey dari universitas Chicago. Teknik ini didasarkan pada analisis isotop oksigen

Masalah Penyusutan Ozon Stratosfer dan Klasifikasi Iklim

Sinar Matahari merupakan spektrum elektromagnetik yang terdiri atas 3 berkas sinar utama, yaitu radiasi ultraviolet (UV), sinar tampak, dan sinar infra merah. Sebelum sampai ke permukaan Bumi, pancaran sinar Matahari ini telah banyak mengalami reduksi (pengurangan) akibat adanya penyaring berupa lapisan Ozon (O3) yang terkonsentrasi di lapisan stratosfer, sehingga pada saat tiba di permukaan Bumi, jumlahnya sudah sangat sedikit.

Namun, radiasi ultraviolet yang jumlahnya sedikit ini sangat bermanfaat bagi kehidupan di Bumi. Bagi tetumbuhan, sinar ultraviolet sangat membantu dalam proses fotosintesis, sedangkan bagi manusia sinar UV dapat membantu mengubah pro vitamin D dalam tubuh manusia menjadi vitamin D sehingga sangat bermanfaat dalam pertumbuhan tulang.

Ozon berfungsi sebagai filter dari sinar ultraviolet yang berbahaya bagi kehidupan

Keadaan sebaliknya akan terjadi jika sinar ultraviolet dari radiasi Matahari seluruhnya sampai ke permukaan Bumi tanpa terlebih dahulu mendapat penyaringan di atmosfer. Radiasi Matahari dapat mengakibatkan proses pemanasan di muka Bumi semakin intensif sehingga suhu muka Bumi semakin tinggi. Fenomena kenaikan suhu Bumi (pemanasan global) dapat memicu perubahan pola iklim global seperti kenaikan muka air laut, pencairan es di kutub, dan curah hujan yang tinggi di atas rata-rata normal. Bagi manusia, radiasi ultraviolet dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan kulit terbakar, kanker kulit, dan efek penuaan dini.

Akhir-akhir ini, ada kecenderungan lapisan ozon pada stratosfer mengalami penipisan, bahkan di beberapa tempat telah mengalami kebocoran sehingga sinar Matahari langsung masuk ke permukaan Bumi. Selain oleh kejadian alam, proses penipisan lapisan ozon dipicu oleh adanya aktivitas manusia seperti pemakaian zat Freon atau CFC (chloro - fluoro - carbon) yang berlebihan, misalnya pada alat pendingin (AC).

Klasifikasi Iklim

Pada bagian awal telah kita bicarakan bahwa iklim merupakan rata-rata kondisi cuaca tahunan yang meliputi wilayah relatif luas. Untuk mengetahui tipe iklim suatu tempat, diperlukan rata-rata data cuaca tahunan seperti suhu, kelembapan udara, pola angin, dan curah hujan minimal 10–30 tahun. Selain data cuaca, indikasi lain yang dapat dijadikan salah satu penentu tipe iklim adalah vegetasi alam (tetumbuhan) yang mendominasi suatu daerah, misalnya hutan tropis, hutan gugur daun, atau vegetasi konifer (hutan berdaun jarum).

Banyak para ahli ilmu cuaca dan iklim yang mencoba membuat klasifikasi iklim dengan berbagai dasar dan keperluan. Tiga orang di antara para ahli tersebut adalah Wladimir Koppen, Schmidt-Ferguson, dan Junghuhn.

1. Iklim Matahari

Sistem penggolongan iklim Matahari didasarkan atas gerakan semu tahunan Matahari antara lintang 23½°LU–23½°LS. Daerah-daerah yang terletak di antara garis lintang tersebut menerima intensitas penyinaran Matahari yang maksimal, sehingga rata-rata suhu udara harian dan tahunannya tinggi. Adapun wilayah-wilayah lainnya mendapat penyinaran Matahari secara bervariasi. Oleh karena itu, dalam sistem klasifikasi iklim Matahari, posisi lintang suatu tempat sangat menentukan tipe iklimnya.
Pembagian Iklim Berdasarkan Iklim Matahari Skema pembagian iklim di Bumi berdasarkan iklim Matahari

Iklim Matahari disebut juga iklim pasti karena letak garis lintang sudah pasti tidak berubah-ubah. Iklim Matahari merupakan iklim yang penentuannya berdasarkan banyaknya sinar Matahari yang diterima oleh Bumi. Daerah yang paling banyak mendapatkan sinar panas Matahari adalah daerah yang terletak antara 0°–23,5°LU dan 0°–23,5°LS. Dengan adanya gerak semu Matahari, daerah ini mendapat panas yang tinggi sepanjang tahun. Daerah yang letaknya semakin jauh dari katulistiwa mendapatkan panas Matahari yang semakin sedikit.
Oleh karena itu, semakin tinggi garis lintang, daerah tersebut semakin dingin. Daerah iklim Matahari terbagi atas:
  1. iklim tropis (panas), antara 23,5°LU–23,5°LS;
  2. iklim subtropis (daerah transisi), antara 23,5°LU–40°LU dan 23,5°LS–40°LS;
  3. iklim sedang, antara 40°LU–66,5°LU dan 40°LS–66,5°LS;
  4. iklim dingin (kutub), antara 66,5°LU–90°LU dan 66,5°LU–90°LU.

2. Iklim Koppen

Seorang ahli klimatologi dari Universitas Graz Austria, Wladimir Koppen (1918) mencoba membuat sistem peng golongan iklim dunia berdasarkan unsur-unsur cuaca, meliputi intensitas, curah hujan, suhu, dan kelembapan. Klasifikasi iklim Koppen menggunakan sistem huruf.

Huruf pertama dalam sistem klasifikasi iklim Koppen terdiri atas 5 huruf kapital yang menunjukkan karakter suhu atau curah hujan. Kelima jenis iklim tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Iklim A (Iklim tropis), ditandai dengan rata-rata suhu bulan terdingin masih lebih dari 18°C. Adapun rata-rata kelembapan udara senantiasa tinggi.
  2. Iklim B (Iklim arid atau kering), ditandai dengan rata-rata proses penguapan air selalu tinggi dibandingkan dengan curah hujan yang jatuh, sehingga tidak ada kelebihan air tanah dan tidak ada sungai yang mengalir secara permanen.
  3. Iklim C (Iklim sedang hangat atau mesothermal), ditandai dengan rata-rata suhu bulan terdingin adalah di atas -3°C, namun kurang dari 18°C. Minimal ada satu bulan yang melebihi rata-rata suhu di atas 10°C. Iklim C ditandai dengan adanya empat musim (spring, summer, autumn, dan winter).
  4. Iklim D (Iklim salju atau mikrothermal), ditandai dengan rata-rata suhu bulan terdingin adalah kurang dari –3°C.
  5. Iklim E (Iklim es atau salju abadi), ditandai dengan rata-rata suhu bulan terpanas kurang dari 10°C. Di kawasan iklim E tidak terdapat musim panas yang jelas.
Huruf kedua menunjukkan tingkat kelembapan, tingkat kekeringan, atau kebekuan wilayah. Untuk tipe iklim A, C, dan D huruf keduanya antara lain:
  1. huruf f menunjukkan lembap, ditandai dengan curah hujan cukup setiap bulan dan tidak terdapat musim kering;
  2. huruf w menandai periode musim kering jatuh pada musim dingin (winter);
  3. huruf s menandai periode musim kering jatuh pada musim panas (summer);
  4. huruf m menunjukkan muson, ditandai dengan adanya musim kering yang jelas walaupun periodenya pendek.
Khusus untuk tipe iklim B, huruf keduanya adalah:
  1. a. huruf s (steppa atau semi arid), ditandai dengan rata-rata curah hujan tahunan berkisar antara 380 mm - 760 mm, dan
  2. b. huruf w (gurun atau arid), ditandai dengan rata-rata curah hujan tahunan kurang dari 250 mm.
Khusus untuk tipe iklim E, huruf keduanya adalah:
  1. a. huruf t artinya tundra;
  2. b. huruf f artinya salju abadi (senantiasa tertutup es);
  3. c. huruf h artinya iklim salju pegunungan tinggi.
Kombinasi dari kedua kelompok huruf dalam sistem penggolongan iklim Koppen adalah sebagai berikut.
  1. a. Af artinya iklim hutan hujan tropis.
  2. b. Aw artinya iklim savana tropis.
  3. c. Am artinya pertengahan antara iklim hutan hujan tropis dan savana.
  4. d. BS artinya iklim steppa.
  5. e. BW artinya iklim gurun.
  6. f. Cw artinya iklim mesothermal lembap (iklim hujan sedang) dengan winter yang kering.
  7. g. Cs artinya iklim mesothermal lembap (iklim hujan sedang) dengan summer yang kering.
  8. h. Cf artinya iklim mesothermal lembap (iklim hujan sedang) dan lembap sepanjang tahun.
  9. i. Df artinya iklim mikrothermal lembap (iklim hutan salju dingin) dan lembap sepanjang tahun.
  10. j. Dw artinya iklim mikrothermal lembap (iklim hutan salju dingin) dengan winter yang kering.
  11. k. ET artinya iklim tundra.
  12. l. EF artinya iklim kutub (senantiasa beku).
  13. m. EH artinya iklim salju pegunungan tinggi.

3. Iklim Schmidt-Ferguson

Khusus untuk keperluan dalam bidang pertanian dan perkebunan, Schmidt dan Ferguson membuat penggolongan iklim khusus daerah tropis. Dasar pengklasifikasian iklim ini adalah jumlah curah hujan yang jatuh setiap bulan sehingga diketahui rata-rata bulan basah, lembap, dan bulan kering. Bulan kering adalah bulan-bulan yang memiliki tebal curah hujan kurang dari 60 mm, bulan lembap adalah bulan-bulan yang memiliki tebal curah hujan antara 60 mm–100 mm. Bulan basah adalah bulan-bulan yang memiliki tebal curah hujan lebih dari 100 mm.

Seperti halnya klasifikasi iklim menurut Vladimir Koppen, sistem klasifikasi penggolongan iklim menurut Schmidt-Ferguson menggunakan sistem huruf yang didasarkan atas nilai Q, yaitu persentase perbandingan rata-rata jumlah bulan basah dan bulan kering. Untuk menentukan tipe iklim Schmidt-Ferguson digunakan rumus sebagai berikut.

Q = perbandingan bulan kering dan bulan basah (%)
Md = mean (rata-rata) bulan kering, yaitu perbandingan antara jumlah bulan kering dibagi dengan jumlah tahun pengamatan
Mw = mean (rata-rata) bulan basah, yaitu perbandingan antara jumlah bulan basah dibagi dengan jumlah tahun pengamatan
Gambar nilai Q dan R, dalam perhitungan iklim Schmidt-Ferguson

Ketentuan dari sistem klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson adalah sebagai berikut.
  1. 1. Tipe Iklim A (sangat basah), jika nilai Q antara 0%–14,33%.
  2. 2. Tipe Iklim B (basah), jika nilai Q antara 14,33%–33,3%.
  3. 3. Tipe Iklim C (agak basah), jika nilai Q antara 33,3%–60%.
  4. 4. Tipe Iklim D (sedang), jika nilai Q antara 60%–100%.
  5. 5. Tipe Iklim E (agak kering), jika nilai Q antara 100%–167%.
  6. 6. Tipe Iklim F (kering), jika nilai Q antara 167%–300%.
  7. 7. Tipe Iklim G (sangat kering), jika nilai Q antara 300%–700%.
  8. 8. Tipe Iklim H (kering sangat ekstrim), jika nilai Q lebih dari 700%.

4. Iklim Junghuhn

Seperti halnya Schmidt dan Ferguson, untuk keperluan pola pembudidayaan tanaman perkebunan, seperti tanaman teh, kopi, dan kina, seorang ahli Botani dari Belanda bernama Junghuhn membuat penggolongan iklim khususnya di negara Indonesia terutama di Pulau Jawa berdasarkan pada garis ketinggian. Indikasi tipe iklim adalah jenis tumbuhan yang cocok hidup pada suatu kawasan.

Junghuhn membagi lima wilayah iklim berdasarkan ketinggian tempat di atas permukaan laut sebagai berikut ini.
  1. Zone Iklim Panas, antara ketinggian 0–700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan di atas 22°C. Daerah ini sangat cocok untuk ditanami padi, jagung, tebu, dan kelapa.
  2. Zone Iklim Sedang, antara ketinggian 700–1.500 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan antara 15°C–22°C. Daerah ini sangat cocok untuk ditanami komoditas perkebunan teh, karet, kopi, dan kina.
  3. Zone Iklim Sejuk, antara ketinggian 1.500–2.500 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan antara 11°C–15°C. Daerah ini sangat cocok untuk ditanami komoditas hortikultur seperti sayuran, bunga-bungaan, dan beberapa jenis buah-buahan.
  4. Zone Iklim Dingin, antara ketinggian 2.500–4.000 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan kurang dari 11°C. Tumbuhan yang masih mampu bertahan adalah lumut dan beberapa jenis rumput.
  5. Zone Iklim Salju Tropis, pada ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut.

Fakta Sosial Perilaku Penyimpangan dan Cara-Cara Untuk Mencegah Penyimpangan Sosial

Fakta Sosial Perilaku Penyimpangan

1. Pelanggaran hak asasi manusia

Pada hakikatnya perilaku penyimpangan apapun faktanya adalah merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Diantara hak-hak manusia terdapat hak-hak dasar atau hak-hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Yang dimaksud dengan hak asasi adalah ialah hak hidup dengan selamat, kebebasan dan persamaan. Kita mengenal jenis-jenis hak asasi yaitu sebagai berikut;
  1. Personal Rights, meliputi kebebasan menyatakan pendapat, memeluk agama, kebebasan bergerak dan lain sebagainya.
  2. Property Rights, meliputi hak untuk memiliki sesuatu, membeli dan menjual, serta memanfaatkannya.
  3. Right of legal equalty, yaitu hak untuk melakukan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan.
  4. Political Rights, yaitu hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak untuk dipilih dan memilih dalam pemilu.
  5. Social dan culture rights yaitu hak untuk memilih pendidikan, mengembangkan kebudayaan dan sebagainya.
  6. Procedural rights, yaitu hak untuk medapat perlakuan tata cara peradilan perlindungan, misal dalam penangkapan, penggeledahan dan lain sebagianya.
Dalam masyarakat modern orang cenderung berlomba-lomba dalam mengejar kepentingan dan memenuhi kebutuhan. Dalam perlombaan demikian biasanya terjadi tindakan yang berakibat tertindihnya atau tergesernya hak dan kepentingan orang lain. Di samping itu terdapat pula penguasa negara yang tidak lagi mempraktekan tata hidup kekeluargaan dalam pengendalian negara, ia cenderung menekan bahkan menghilangkan hak asasi warganya, demi berlanjutnya kekuasaan suatu rulling class yang sedang memerintah.

Berbagai pelanggaran HAM dewasa ini nampak dekat di depan mata. Pembunuhan yang terjadi dalam setiap konflik sosial/ budaya seperti tawuran, perkelahian antar kampung/suku, ataupun pembunu-han yang terjadi dalam konflik politik/militer yaitu peperangan.Nyawa manusia seakan-akan tidak ada harganya. Pembunuhan hanyalah merupakan satu contoh di antara sekian perilaku penyimpangan.

2. Liberalisme atau faham kebebasan

Liberalisme adalah faham atau ideologi yang menghendaki kebebasan individu untuk melakukan apa saja yang dikehendaki. Semula faham liberalisme lahir dikarenakan sikap atau tindakan yang sewenang-wenang yang dilakukan oleh raja atau kaisar terhadap rakyatnya. Di era moderen liberalisme menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat dan memicu terjadinya perilaku penyimpangan bagi para penganut faham kebebasan, diantaranya yaitu;
  1. Pergaulan Bebas, meliputi seks bebas (kumpul kebo, seks pra nikah, prostitusi dan nudis), penggunaan narkotika dan penyimpangan seks (Homoseks, biseks, lesbian dan perilaku yang berlawanan dengan jenis kelamin).
  2. Demonstrasi yang anarkhis , Demontrasi adalah pernyataan protes yang dilakukan secara massal dan atau unjuk rasa, atau menentang suatu pihak atau seseorang. Demonstrasi merupakan wujud dari kebebasan yang dimiliki seseorang untuk menyatakan pendapat secara terbuka. Demonstrasi adakalanya mengundang kebrutalan sehingga ada pihak yang dirugikan.
  3. Kebebasan Pers, Kebebasan pers adalah kebebasan untuk membeberkan sebuah fakta atau berita tanpa mempertimbangkan nilai baik dan buruk atau nilai etika. Kebebeban pers juga merupakan bentuk liberal-ismeyang dianut oleh kalangan pers untuk mengungkap kebenaran dan menyuguhkannya kepada masyarakat luas. Kebebasan pers sering menjadi media bagi perilaku penyimpangan, contohnya tayangan infotaiment yang membicarakan gosip para selebriti, porgografi dan pornoaksi, kekerasan dan banyak lagi tontonan yang tidap dapat dijadikan tuntutan bagi masyarakat.
Pergaulan Bebas  Demonstrasi yang anarkhis Kebebasan Pers

Cara-Cara Untuk Mencegah Penyimpangan Sosial

Penyimpangan sosial sebagai proses sosial memang tidak selamanya menjadi ancaman yang akan menghancurkan individu atau masyarakat. Namun demikian, perilaku penyimpangan tetap harus memiliki standar nilai dan kaidah yang umum sesuai dengan nilai dan kaidah yang dianut oleh masyarakat.

Sekarang coba bayangkan jika setiap perilaku menyimpang mendapatkan toleransi dari masyarakat, maka perilaku meyimpangan yang bersifat negatif akan berdampak negatif pula bagi masyarakat. Oleh karena itu diperlukan cara-cara preventif untuk mencegah terjadinya perilaku penyimpangan, diantaranya yaitu dengan;
  • Mengefektifkan fungsi dan peranan lembaga-lembaga sosial
Lembaga-lembaga sosial yang dimaksud adalah polisi, pengadilan, sistem adat dan tokoh masyarakat. Lembaga-lembaga sosial ini berfungsi mengawasi setiap tindakan masyarakat agar senantiasa sesuia dengan nilai dan norma.
  • Memberikan pendidikan baik formal atau formal di keluarga dan dimasyarakat.
Pendidikan formal berbentuk sekolah. Sekolah hendaknya menjadi bagian integral dari masyarakat sekitarnya. Seseuai dengan asas pendidikan seumur hidup, sekolah hendaknya memiliki dwifungsi yaitu mampu memberikan formal dan pendidikan nonformal yang berorientasikan pada pembangunan dan kemajuan sehingga dapat menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal hidupnya.
  • Meningkatkan pendidikan moral dan etika.
Pendidikan moral tujuannya yaitu untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma baik yang dianut secara kelompok ataupun secara masyarakat.

Perilaku Menyimpang Sebagai Hasil Sosialisasi Tidak Sempurna

Sifat-Sifat Penyimpangan.

1. Penyimpangan positif

Penyimpangan positif adalah pelanggaran terhadap nilai dan norma yang dilakukan oleh individu atau kelompok masyarakat tetapi memberikan dampak yang baik bagi pelaku dan masyarakat. Contoh, Di India terdapat tradisi Saty, yaitu apabila seorang suami meninggal kemudian dibakar maka istrinya yang masih hidup harus ikut mati dengan cara terjun kedalam kobaran api yang membakar jenazah suaminya. Tradisi ini sangat merugikan masyarakat sehingga oleh pemerintah dihapuskan.

2. Penyimpangan negatif

Penyimpangan negatif adalah pelanggaran terhadap nilai dan norma yang dilakukan oleh individu atau kelompok masyarakat yang mengakibatkan dampak buruk bagi pelaku dan masyarakat. Perilaku menyimpang itu mengancam ketertiban masyarakat. Contoh, pelanggaran terhadap tata tertib lalu lintas, pelanggaran terhadap nilai-nilai agama.

Perilaku Menyimpang Sebagai Hasil Sosialisasi Tidak Sempurna

Sosialisasi adalah proses mempelajari kebiasaan dan tata kelakuan untuk menjadi suatu bagian dari suatu masyarakat, sebagian besar proses sosialisasi adalah proses mempelajari prilaku peranan. Konsepsi peran menunjuk pada seperangkat harapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu dan mengharapkan orang lain untuk bertindak dengan cara-cara tertentu pula yaitu sesuai dengan nilai dan kaidah-kaidah yang dimiliki oleh masyarakat.

Proses sosialisasi berlanjut dengan segala daya pelaziman, imitasi, identifikasi dan internalisasi. Pengalaman-pengalaman akan diperoleh individu dari proses sosialisasi. Pada masa peralihan (transisi) dari masa muda ke masa dewasa memang sering terjadi konflik nilai sehingga menyebabkan pengalaman sosialisasi dalam suatu periode yang dialami oleh individu mengalami ketidaksempurnaan. Proses sosialisasi juga dapat berlangsung kurang baik disebabkan karena pendidikan moral anak laki-laki dan anak perempuan terutama ditujukan pada aturan-aturan prilaku sosial yang resmi dan bukan pada modifikasi aturan-aturan yang tidak resmi yang berlaku pada dunia orang dewasa.
Perilaku Menyimpang Sebagai Hasil Sosialisasi Tidak Sempurna
Perubahan sosial tanpa diikuti dengan perubahan nilai dan norma akan menimbulkan kesenjangan nilai-nilai dengan hasil perubahan yang diharapkan. Ledakan penduduk, perubahan teknologi dan punahnya kebudayaan lokal mengharuskan masyarakat untuk menerapkan norma-norma baru, karena perubahan itu menuntut adanya penye-suaian diri. Kondisi demikian menyebabkan proses sosialisasi tidak dapat berjalan dengan baik karena adanya kesenjangan nilai dan perubahan yang terjadi di masyarakat, maksudnya masyarakat tidak menyediakan kaidah-kaidah baru untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan baru yang terjadi di masyarakat.

Proses sosialisasi yang tidak sempurna pada remaja akan membentuk remaja-remaja yang memiliki bentuk sebagai berikut

1. Jenis remaja urakan

Yaitu remaja yang tidak bermaksud mengadakan perubahan dalam masyarakat/kebudayaan tetapi menginginkan kebebasan bagi dirinya sendiri atau kebebasan untuk menentukan kehendaknya sendiri.

2. Jenis remaja delinkuen atau nakal

Remaja ini tidak ingin dan tidak berniat untuk mengadakan perubahan dalam masyarakat/kebudayaan, tetapi mereka berusaha memperoleh manfaat dari masyarakat dengan melakukan tindakan yang mereka anggap menguntungkan atau menyenangkan padahal dalam kenyataanya merugikan masyarakat.

3. Jenis remaja radikal

Remaja ini berkeinginan mengadakan perubahan dalam masyarakat/kebudayaan secara radikal. Mereka tidak puas dan tidak bisa menerima kenyataan-kenyataan yang mereka hadapi. Oleh karena itu mereka selalu berusaha untuk melakukan perubahan tanpa rencana jangka panjang. (Bachtiar, 1982:17-18)

Bentuk-Bentuk Penyimpangan dan Jenis-Jenis Prilaku Penyimpangan

Bentuk-Bentuk Penyimpangan

Terdapat berbagai pelaku penyimpangan di masyarakat, yaitu;

1. Individual deviation ( Penyimpangan individual )

Penyimpangan individual dilakukan oleh individu atau orang perorangan. Tujuan individu melakukan penyimpangan didasarkan karena ia sebagai pribadi tidak dapat menyesuaikan dengan nilai dan norma. Atau dengan sengaja melakukan tindakan menyimpang dengan melanggar tata nilai dan peraturan.

Sesuai dengan kadar penyimpangannya, pelaku penyimpangan dapat dikenali sebagai berikut;
  1. Pembandel, yaitu pelaku penyimpangan yang tidak patuh kepada peraturan, anjuran atau nasihat. Contoh. Seorang siswa yang tidak mau melaksanakan piket kebersihan di kelas.
  2. Pembangkang, yaitu pelaku penyimpangan yang tidak taat pada peringatan orang-orang. Contoh, PKL yang berjualan tidak pada tempat yang telah diatur oleh pemerintah daerah.
  3. Pelanggar, yaitu pelaku penyimpangan yang melanggar norma-norma umum yang berlaku. Contoh, pengendara motor yang kebut-kebutan di jalan raya.
  4. Perusuh atau penjahat, yaitu pelaku penyimpangan karena mengabaikan norma-norma umum sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa dilingkungannya. Contoh, Seorang pencuri barang milik tetangganya disertai dengan pembunuhan.
  5. Munafik, yaitu pelaku penyimpangan yang tidak menepati janji, berkata bohong, mengkhianati kepercayaan dan berlagak membela. Contoh, oknum pejabat negara, ketika berkampanye dalam pemilu menjanjikan program-program yang mensejahterakan rakyat, setelah terpilih hanya mensejahterakan diri dan keluarganya saja.

2. Group deviation ( Penyimpangan kelompok )

Penyimpangan kelompok dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak mematuhi nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Pelaku penyimpangan kelompok ini melakukan tindakan menyimpang karena perasaan kolektif yang dimiliki oleh anggota kelompok dan perasaan itu tidak memiliki kesamaan dengan anggota lain di luar kelompoknya.
Bentuk-Bentuk Penyimpangan dan Jenis-Jenis Prilaku Penyimpangan
Contoh, Sekelompok kaum waria yang menjalani kehidupan sesama jenis (homoseks). Kelompok waria ini memiliki nilai dan norma yang bertentangan dengan kaidah yang dimiliki oleh masyarakat. Mereka membentuk komunitas tersendiri di masyarakat dan biasanya terpisah atau terkucilkan.

3. Mixture of both deviation ( Penyimpangan campuran)

Penyimpangan campuran ini dilakukan oleh individu dalam sebuah kelompok. Penyimpangan dilakukan oleh individu sebagai bentuk keterikatan individu tersebut terhadap kelompoknya. Kelompok biasanya melakukan pengorganisasian terhadap individu-individu anggota kelompoknya. Contoh, kegiatan sekte-sekte keagamaan. Kelompok sekte biasanya melakukan pembinaan terhadap moral dan mental para anggota kelompoknya, agar senantiasa taat, patuh dan setia pada nilai dan norma yang dianut oleh kelompoknya.

Hampir setiap anggota masyarakat pada batas-batas tertentu melakukan penyimpangan, hanya saja kadar melakukan penyimpangannya yang berbeda-beda, beberapa diantaranya melakukan penyimpangan lebih tinggi kadar penyimpangannya, dan beberapa orang melakukan penyimpangan-penyimpangan secara tersembunyi.

Jenis-Jenis Prilaku Penyimpangan

Perilaku penyimpangan tidak sepenuhnya mendapat penolakan dari masyarakat. Masyarakat akan memberikan toleransi terhadap beberapa perilaku penyimpangan karena dapat berfungsi sebagai bentuk pengendalian sosial. Dalam hal ini kita dapat melihat bentuk-bentuk penyimpangan sosial sebagai berikut;

1. Penyimpang primer

Penyimpang primer adalah perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh seseorang yang dalam aspek kehidupan lainnya masih mentaati nilai dan norma (konformis). Penyimpangan yang dilakukan secara tersembunyi, mudah untuk dimaafkan sehingga pelaku tidak dianggap melakukan penyimpangan. Perbuatan menyimpangnya bisa mendapat toleransi dari masyarakat selama dapat dimengerti secara rasional oleh masyarakat sebagai bagian dari peranan yang harus dilakukan oleh si pelaku.

Misalnya, Seorang pedagang kain, ketika ada pembeli yang ingin membeli kainnya si pedagang menyembunyikan kain yang cacat dengan mengatakan kain tersebut keadaannya baik. Pedagang tersebut sudah berperilaku tidak jujur karena menyebutkan kain itu tidak cacat, tetapi perbuatan tidak jujur pedagang itu dapat difahami oleh masya-rakat karena tujuan pedagang itu ingin kainnya cepat terjual.

2. Penyimpangan sekunder

Penyimpangan sekunder adalah suatu perbuatan yang oleh masyarakat diidentifikasikan sebagai perbuatan menyimpang. Orang yang melakukan perbuatan menyimpang ini disebut sebagai penyimpang. Masyarakat tidak memberikan toleransi terhadap si penyimpang dan akan menying-kirkan si penyimpang dari kelom-pok yang taat pada nilai dan norma (konformis). Contohnya adalah pemakai dan pengedar narkoba, penjudi, pemabuk dan penjahat.

Pengertian Perilaku Menyimpang dan Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Pengertian Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang yang lazim disebut dengan nonkonformitas merupakan tindakan yang dilakukan oleh individu perorangan atau kelompok dalam masyarakat untuk menghidar dari nilai dan norma. Prilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan kaidah dinamakan menyimpang atau suatu perbuatan disebut menyimpang bilamana perbuatan ini dinyatakan sebagai menyimpang.

Beberapa pengertian perilaku menyimpang oleh para ahli sosiologi, diantaranya yaitu;
  1. Becker, perilaku menyimpang bukanlah kualitas yang dilakukan orang, melainkan konsekuensi dari adanya suatu peraturan dan penerapan sangsi yang dilakukan oleh orang lain terhadap pelaku tindakan tersebut.
  2. Robert M.Z. Lawang, penyimpangan sebagai tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari pihak berwenang untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang.
  3. James Vander, Penyimpangan merupakan perilaku yang oleh sejumlah orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
Dengan demikian penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai sutau pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat. Penyimpangan memilki ciri mengganggu stabil-itas masyarakat. Bruce J. Cohen menjelaskan terjadinya penyimpangan sosial diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu;
  1. Adanya perubahan norma-norma dari suatu periode ke periode wakatu lain.
  2. Tidak ada norma atau aturan yang bersifat mutlak yang bisa digunakan untuk menentukan benar tidaknya kelakuan seseorang. Norma sesuai dengan masyarakat dan kebudayaan masyarakat yang berbeda satu sama lain.
  3. Individu-individu yang tidak mematuhi norma disebabkan karena mengamati orang-orang lain yang tidak mematuhi atau karena mereka tidak dididik untuk mematuhinya.
  4. Adanya individu-individu yang belum mendalami norma dan belum manyadari kenapa norma-norma itu harus dipatuhi. Hal ini disebabkan karena proses sosialisasi yang belum sempurna dalam dirinya.
  5. Adanya individu-individu yang kurang yakin akan kebenaran atau kebaikan norma, atau dihadapkan dengan situasi di mana terdapat norma-norma yang tidak sesuai.
  6. Terjadi konflik peran dalam seorang individu karena ia menjalankan beberapa peran yang menghendaki corak perilaku yang berbeda.
Berdasarkan pengertian di atas, menurutmu apakah perilaku menyimpang merupakan sebuah proses sosial?
Penyimpangan merupakan ancaman, tetapi juga merupakan alat pemliharaan stabilitas sosial. Prilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Dewasa ini tidak ada satu pun masyarakat yang dapat bertahan dalam kondisi statis untuk jangka waktu yang lama. Masyarakat yang paling terisolasi pun akan terkena perubahan sosial.
Pengertian Perilaku Menyimpang dan Teori-Teori Penyimpangan Sosial

Teori-Teori Penyimpangan

  • Teori biologis
Teori bilogis melihat faktor biologis sebagai penyebab dari sebagian besar tindakan penyimpangan.
  • Teori psikologis
Teori menganggap bahwa ketidakmampuan menyesuaikan diri secara psikologislah yang merupakan penyebab penyimpangan.
  • Teori sosialisasi
Teori ini menghubungkan penyimpangan dengan ketidak mampuan untuk menghayati nilai dan norma yang dominan di masya-rakat. Ketidakmampuan mungkin disebabkan oleh sosialisasi dalam kebudayaan yang menyimpang.
  • Teori anomi
Teori menyatakan bahwa masyarakat kompleks cenderung menjadi masyarakat tanpa norma, yang tidak memberikan pedoman jelas yang dapat dipelajari dan dipatuhi orang.
  • Teori reaksi masyarakat (labeling theory)
Teori ini memusatkan perhatian pada pembuat peraturan dan para pelanggar peraturan. Pemberian cap menyimpang pada seseorang seringkali merubah perlakuan masyarakat terhadap orang itu.
  • Teori konflik
Teori konflik terdiri atas teori konflik budaya yang menilai penyimpangan diawali dengan adanya pertentangan norma antara berbagai kebudayaan khusus yang berlainan. Teori konflik kelas sosial melihat penyimpangan bermula dari adanya perbenturan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang berbeda.
  • Teori pengendalian
Teori ini menghubungkan penyimpangan dengan lemahnya ikatan-ikatan dengan lembaga-lembaga sosial di masyarakat, seperti keluarga, sekolah dan pekerjaan. Teori pengendalian memandang norma yang diakui dan pemberian hukuman yang sistematis sebagai alat kendalii yang bermanfaat.

Cara-Cara Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial sebagai sebuah proses sosial memerlukan cara-cara untuk mencapai tujuannya yaitu mencapai terwujudnya masyarakat yang tertib dan teratur.

Bagaimanakah cara suatu kelompok atau masyarakat membuat para anggotanya untuk berprilaku sesuai dengan apa yang diharapkan, yaitu di antara melalui;

1. Pengendalian sosial melalui sosialisasi

Sosialisasi membentuk kebiasaan, keinginan dan adat istiadat kita. Tata cara dan kebiasaan yang sama di antara anggota masyarakat akan menjadikan anggota masyarakat memiliki perilaku yang sama.

Terhadap kebiasaan yang sudah dilakukan oleh masyarakat akan mengundang anggota masyarakat yang lainnya untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan tersebut tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang melaksanakan penyesuian. Melalui sosialisasi seseorang akan menginternalisasikan (menghayati) norma-norma dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam masyarakatnya. Melalui proses internalisasi ini orang secara otomatis akan berprilaku tanpa berfikir dikendalikan

2. Pengendalian sosial melalui tekanan sosial

Setiap individu adalah bagian dari sebuah kelompok sosial, karena dalam setiap individu terdapat kecenderungan untuk berkelompok dan berusaha untuk menyesuaikan dengan kelompok. Lapire (1954) melihat pengendalian sosial dalam hal ini sebagai suatu proses yang lahir dari kebutuhan individu akan penerimaan kelompok. Kelompok akan sangat berpengaruh jika para anggota kelompok itu akrab dan berusaha mempertahankan keberadaan kelompok.
Cara-Cara Pengendalian Sosial
Tekanan keinginan kelompok adalah suatu proses yang berkesinambungan dan berpengaruh terhadap perubahan diri seseorang. Seseorang tidak menyadari dirinya akan berubah setelah menjadi anggota sebuah kelompok, hal ini terjadi karena setiap orang cenderung mengeks-presikan pribadinya sesuai dengan kelompoknya. Kita sering menemukan bahwa anggota baru suatu kelompok akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kelompok dan bahkan mengiden-tifikasikan diri dengan kelompok dan menyatakan kesetiannya terhadap kelompok.
  • Pengendalian Kelompok Informal Primer
Kelompok primer adalah kelompok kecil, akrab, dan bersifat informal. Contohnya Keluarga, Klik, Kelompok bermain dan sebagainya. Pengendalian dalam kelompok primer dilaksanakan secara informal, spontan dan tanpa direncanakan. Para anggota kelompok akan cepat bereaksi apabila ada salah satu anggota kelompoknya yang tersakiti. Bilamana seorang anggota kelompok menyakiti anggota kelompoknya yang lain maka mereka akan menunjukan rasa ketidaksenangan, dengan cara mengejek, menertawai dan mengucilkan bahkan menyisihkan anggota tersebut dari pergaulan.
  • Kelompok sekunder
Kelompok sekunder adalah kelompok yang bersifat impersonal, formal dan berdasarkan kepentingan (utilitarian), seperti organisasi, perkumpulan dan asosiasi. Kelompok sekunder pada umumnya lebih besar dan memiliki tujuan yang khusus. Tujuan dari kelompok sekunder ini adalah untuk memenuhi hubungan manusia dalam memenuhi kebutuhan manusiawi atau untuk membantu kita dalam menyelesaikan pekerjaan. Kelompok sekunder berperanan efektif dalam pengendalian sosial informal seperti tertawaan, ejekan dan pengucilan.

Namun dalam kelompok sosial pengendalian sosial lebih bersifat formal yang merupakan ciri-ciri dari kelompok sekunder, pengendalian sosial formal itu adalah peraturan resmi dan tata cara yang distandarisasikan, propaganda, hubungan masyarakat, rekayasa manusia, kenaikan golongan (pangkat) pemberikan gelar, imbalan dan hadiah, sanksi dan hukuman formal.

Pengendalian sosial melalui kelompok ini dapat dilakukan oleh beberapa unsur kelompok yaitu;
  1. 1). Pengendalian kelompok oleh kelompok
  2. 2). Pengendalian kelompok terhadap anggotanya
  3. 3). Pengendalian pribadi terhadap pribadi lainnya.
  4. 3. Pengendalian sosial melalui kekuatan
Pada masyarakat yang sederhana dapat mengendalikan perilaku anggota masyarakatnya dengan menggunakan nilai-nilai adat, yang ditunjang oleh pengendalian informal oleh kelompok primer. Oleh karena itu pada masyarakat ini tidak diperlukan hukum formal dalam pelaksanaan hukuman. Namun pada masyarakat yang jumlah penduduknya sangat besar dan memiliki kebudayaan yang kompleks, diperlukan hukum yang formal, peraturan hukum dan pelaksanaan hukum. Masyarakat yang sangat kompleks dengan memiliki banyak kelompok berpotensi untuk terjadinya pertentangan antar kelompok. Oleh karena itu masyarakat seperti ini memerlukan kekuatan dalam bentuk hukuman formal dan peraturan hukum demi terciptanya masyarakat yang tertib.

Koentjaraningrat, menjelaskan cara-cara pengendalian sosial dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut, yaitu:
  1. a. Mempertebal keyakinan para warga masyarakat akan kebaikan adat istiadat.
  2. b. Memberi ganjaran dan semacam penghargaan kepada warga masyarakat yang selalu taat kepada adat istiadat.
  3. c. Mengembangkan rasa malu dalam jiwa warga masyarakat yang menyeleweng dari adat istiadat.
  4. d. Mengembangkan rasa takut dalam jiwa warga masyarakat yang hendak menyeleweng dari adat istiadat dengan ancaman kekerasan.
Pelaksanaan pengendalian sosial dapat dilaksanakan dengan cara ajakan atau anjuran (persuasif) yaitu dengan cara tanpa kekerasan. Cara ini mengajak atau membimbing dengan memberikan pengetahuan agar orang tidak melakukan atau tidak mengulangi perbuatan melanggar nilai dan norma. Teknik pengendalian sosial ini disesuaikan dengan kondisi, dalam keadaan bagaimana cara itu dipakai tergantung dari bentuk pelanggaran yang mungkin terjadi. Cara paksaan (coercive) yaitu dengan kekerasan. Cara kekerasan ditempuh apabila dengan cara anjuran tidak berhasil. Cara kekerasan tidak berarti harus terjadi bentrokan fisik tetapi dapat menggunakan alat-alat hukum atau pertaturan yang mengetur tentang jenis-jenis pelanggaran.

Cara pengendalian sosial yang ketiga yaitu dengan menciptakan suatu situasi yang dapat merubah sikap dan prilaku yang negatif, contohnya sekolah.

Konsekuensi dari tidak berfungsinya lembaga-lembaga sosial

Pengendalian sosial (social control) merupakan pengawasan masyarakat, dalam arti dapat dilakukan oleh individu terhadap indi-vidu, individu terhadap kelompok, maupun kelompok oleh kelompok lain-nya atau oleh sebuah lembaga sosial yang menyangkut segala aktivitas agar yang diawasi menaati kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang berlaku. Pengendalian sosial bertujuan untuk mencapai keserasian antara stabilitas dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Dengan kata lain sistem pengendalian sosial bertujuan untuk mencapai suatu keadaan damai melalui keselarasan, keserasian dan keseimbangan.

Sistem pengendalian sosial merupakan pengawasan oleh masyarakat, dari segi sifatnya pengendalian sosial dapat bersifat preventif yaitu usaha pencegahan sebelum terjadinya pelanggaran, bersifat represif yaitu apabila telah terjadi pelanggaran dan diupayakan supaya keadaanya dapat pulih kembali, atau bisa gabungan antara keduanya.

Sistem dan unsur-unsur yang sudah dijelaskan di atas, memberikan peranan besar yang dapat menjaga dan memberikan keamanan bagi individu dalam menjalan peranannya juga bagi ketertiban masyarakat agar terjaga keutuhan masyarakatnya. Apabila salah satu unsur pengendalian sosial ini tidak berfungsi maka masyarakat tidak memiliki lembaga yang akan melaksanakan fungsi pengendalian sosial. Karena lembaga sosial memiliki fungsi untuk;
  1. Alat Pendidikan, Dengan adanya berbagai macam lembaga sosial anggota masyarakat sadar untuk mematuhi peraturan. Masyarakat telah mengharusakan warga untuk bertanggung jawab terhadap segala tingkah laku, sikap dan perbuatannya.
  2. Penegak Peraturan, Pranata macam pranata mengikat, mengendalikan dan mengharuskan anggota masyarakat untuk mematuhi peraturan.

Jenis-Jenis Lembaga Pengendalian Sosial dan Jenis Pengendalian Sosial

Jenis-Jenis Lembaga Pengendalian Sosial

Lembaga sosial memiliki peranan sebagai lembaga yang menjalankan fungsi untuk melaksanakan pengendalian sosial di masyarakat. Lembaga sosial ini adalah lembaga yang telah diakui sebagai pranata sosial di masyarakat sehingga keberadaan lembaga sosial ini ditaati dan dihormati oleh masyarakatnya.

Adapun lembaga-lembaga sosial itu antara lain adalah;

a. Sekolah

Sekolah merupakan lembaga sosial yang memiliki fungsi pengendalian sosial. Fungsi pengendalian sosial dilaksanakan oleh Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, para guru dan BK. Sekolah memberikan wawasan pengetahuan sosial bagi civitas akademika agar dapat bertingkah laku sesuai dengan tata nilai dan norma baik untuk disekolah atau untuk di masyarakat. Sekolah memiliki tata tertib yang dilembagakan serta wajib ditaati oleh warga sekolah, tata tertib tersebut tujuannya agar terwujud ketertiban sosial dan akademik di sekolah sehingga tujuan sekolah dapat tercapai.
Sekolah

b. Polisi

Kepolisian adalah lembaga sosial negara yang bertugas menjaga keamanan masyarakat dari gangguan-gangguan yang akan meng-ancam keutuhan dan ketertiban masyarakat. Gangguan itu bisa datang dari dalam anggota masyarakat atau dari luar masyarakat. Sebagai salah satu unsur keamanan negara, polisi mempunyai alat untuk melaksanakan fungsi pengendalian sosial, yaitu hukuman yang sifatnya tegas dan tertulis.

c. Pengadilan

Pengadilan merupakan lembaga yang melaksanakan fungsi pengendalian sosial yaitu untuk mengadili, menyelesaikan secara hukum dan negara, serta memberikan hukuman terhadap anggota masyarakat yang melanggar hukum.

Pengadilan mewujudkan aturan-aturan tertulis yang mengatur tentang ketertiban sosial bagi anggota masyarakatnya. Alat pengadilan terdiri dari jaksa sebagai penuntut pelaku agar dituntut sesuai dengan peraturan yang berlaku, pengacara bertugas mendampingi pelanggar hukum (terdakwa) yaitu untuk membe-rikan pertimbangan-pertimbangan yang terbaik bagi terdakwa, dan hakim yang bertugas menjatuhkan hukuman setelah menjalani proses persidangan.

d. Adat

Adat adalah kebiasaan-kebiasaan yang telah dilembagakan menjadi norma sosial bagi masyarakat penganutnya. Adat berasal dari dalam anggota masyarakat, yang mengikat anggota masyarakatnya serta dijunjung dan dipertahankan. Adat menjadi pedoman bagi anggota masyarakatnya untuk bertingkah laku. Prilaku yang tidak sesuai dengan adat dianggap melanggar adat. Adat memiliki peranan dalam pengendalian sosial karena adat mengatur tentang pola tingkah laku masyarakat. Adat mengandung nilai, norma dan sanksi, walaupun hukum adat biasanya tidak tertulis. Namun adat tetap efektif sebagai lembaga sosial yang menjalankan fungsi pengendalian sosial.

e. Lembaga Agama

Lembaga agama memberikan peranan yang sangat efektif dalam pengendalian sosial, karena lembaga agama menerapkan aturan-aturan berdasarkan syariat agama tersebut. Dalam konsep agama dikenal hukum halal dan haram. Halal adalah sesuatu yang diperbolehkan oleh agama dan haram ialah sesuatu yang dilarang oleh agama. Selain aturan halal dan haram, agama juga memiliki aturan perintah dengan tahapan wajib, sunnah dan makruh.

Jenis Pengendalian Sosial

Selain lembaga sosial yang memiliki peranan untuk melaksanakan pengendalian sosial, maka jenis pengendalian sosial dapat berupa;

a. Cemoohan

Cemooh adalah ejekan, hinaan atau cela. Mencemoohkan artinya mengejek, menghinakan atau menertawakan. Tindakan seseorang yang melanggar nilai dan norma dianggap melakukan perbuatan yang tercela dan tabu. Contohnya pencabulan.

b. Teguran

Teguran atau menegur adalah mengajak bercakap-cakap, mencela atau mengkritik, memperingatkan atau menasihatkan dan mengganggu. Teguran disampaikan secara lisan kepada orang yang melanggar nilai dan norma. Teguran dapat mengingatkan orang bahwa prilakunya salah dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Contoh, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan memberikan teguran kepada siswa yang terlambat masuk kelas.

c. Pendidikan

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap atau tata kelakuan seseorang atau kelompok orang diusaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, atau proses, perbuatan dan cara mendidik. Contoh, pendidikan moral, pendidikan agama, pendidikan kesehatan.

d. Agama

Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan atau dewa dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kewajiban itu. Dalam agama terdapat aturan dan sanksi yang mengikat pemeluknya. Orang yang melanggar aturan agama dianggap berdosa dan disebut sebagai pendosa. Pendosa ini akan mendapatkan hukuman baik di dunia atau pun di akhirat.

Sedangkan orang taat kepada hukum agama disebut orang yang bertakwa dan beriman, mereka akan mendapat balasan amal kebaikannya baik di dunia ataupun di akhirat. Contoh, Dalam agama Islam pada bulan Ramadhan setiap muslim diwajibkan berpuasa. Muslim yang tidak berpuasa akan berdosa dan tidak akan diampuni dosanya apabila tidak bertaubat.

e. Gosip

Gosip adalah obrolan-obrolan tentang orang lain, cerita-cerita negatif seseorang atau penggunjingan. Gosip biasanya tidak berdasarkan data, kenyataan atau fakta. Gosip lebih mengarah pada kritik sosial terhadap tindakan individu atau masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma. Contoh, Seseorang digosipkan sebagai kupu-kupu malam karena apabila pulang kerjanya larut malam, padahal ia bekerja di perusahaan mengambil shift malam.

f. Pengucilan

Pengucilan atau mengucilkan adalah membuang atau mengeluarkan dari lingkungan (keluarga atau persekutuan). Orang yang terkucilkan adalah orang yang tekah dibuang dari kelompoknya. Contoh, seorang anak lelaki yang mengalami kelainan seks ingin berubah menjadi wanita (waria) ditentang oleh keluarganya dan dikucilkan oleh orangtuanya.

Blog Archive


Ping your blog, website, or RSS feed for Free